“Demikian juga halnya dengan iman Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” Yakobus 2 17 Peneguhan sidi confirmation adalah bagian dari pengakuan iman dalam banyak gereja. Kata “sidi” berasal dari bahasa Sansekerta, artinya penuh atau sempurna. Pada kebanyakan gereja, setelah melakukan katekisasi kursus Alkitab, seseorang bisa diteguhkan sebagai anggota gereja melalui peneguhan sidi dalam upacara khusus di hadapan sidang jemaat. Apabila seseorang telah menerima peneguhan sidi, secara gerejawi keanggotaannya sudah penuh. Untuk sebagian gereja, peneguhan sidi bukan sakramen tapi berkaitan erat dengan sakramen. Baptisan usia dewasa memang bisa dilakukan bersama peneguhan sidi. Jika baptisan usia anak kemudian dilanjutkan dengan sidi sesudah menginjak usia dewasa, maka dalam hal ini peneguhan sidi adalah kesempatan untuk mengakui iman di hadapan jemaat. Selain itu, pengakuan sidi juga merupakan pernyataan bahwa janji orangtua untuk membesarkan anaknya sesuai dengan firman Tuhan telah ditepati, sampai sang anak percaya kepada Yesus Kristus. Melalui peneguhan sidi, seseorang diterima sebagai jemaat yang bertanggung jawab untuk mengambil bagian dalam pelayanan jemaat, dan diijinkan ikut dalam Perjamuan Kudus. Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang yang mengikuti upacara sidi, antara lain Apakah dia mengaku percaya, akan Allah Tritunggal yang Esa Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh dia mengaku, bahwa firman Allah Alkitab yang dia pelajari dan ketahui akan membimbingnya pada jalan dia mengaku, untuk menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan firman dia mengaku dan mau, untuk mengikuti segala bentuk ibadah dan persekutuan dalam gereja. Tentunya, untuk semua pertanyaan di atas seseorang seharusnya menjawab dengan “ya” karena hanya dengan itu ia menyatakan pengakuan imannya. Memang untuk menjawab dengan “ya’ tidaklah terlalu sulit, apalagi semua pengertian atas pertanyaan di atas sudah diperoleh dari katekisasi. Walaupun demikian, dalam kenyataannya, apa yang diamini belum tentu dijalani. Banyak orang Kristen yang sudah faham akan seluk-beluk kekristenan secara teori, ternyata tidak mempunyai perhatian penuh dalam hal melaksanakan firman Tuhan. Bagi banyak orang Kristen, teori adalah jauh lebih mudah untuk dipelajari dari pada pelaksanaannya. Untuk mereka, iman adalah satu hal dan perbuatan adalah suatu tambahan yang terpisah. Bukankah orang Kristen diselamatkan hanya oleh iman? Bukankah iman Kristen berbeda dengan iman agama lain yang menyatakan bahwa manusia harus banyak berbuat baik untuk bisa menerima hidup kekal di surga? Sebenarnya ada bagian Alkitab yang menonjolkan hal perbuatan. Kitab Yakobus sering dipandang orang sebagai bukti pentingnya perbuatan baik untuk mencapai keselamatan. Tetapi, ayat di atas tidaklah menyatakan bahwa manusia diselamatkan karena perbuatan. Ayat itu hanya menjelaskan bahwa iman yang benar tidak mungkin untuk tidak disertai dengan perbuatan. Iman yang tanpa perbuatan adalah seperti teori yang diakui kebenarannya tetapi tidak pernah dipraktikkan. Bagaimana orang bisa mengakui apa yang benar tetapi tidak melaksanakannya dalam hidup adalah sebuah tanda tanya besar. Apakah orang itu benar-benar percaya kepada Tuhan dan firmanNya? Tidak sadarkah orang itu bahwa untuk menjadi umat Tuhan ia harus menolak segala dosa dan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan dan mau hidup sesuai dengan perintahNya? Kita tidak perlu jauh-jauh melihat adanya orang yang mengaku Kristen tetapi gagal untuk hidup secara Kristen. Kita sendiri pun sering mengalami pertentangan batin antara melakukan hal yang baik dan tinggal berdiam diri. Apalagi, dengan berbuat apa yang sesuai dengan firman Tuhan ada kemungkinan bahwa masyarakat di sekitar kita akan membenci kita. Karena itu, kita juga sering memisahkan hidup kerohanian dari hidup sehari-hari. Apa yang kita pelajari dan akui dari Alkitab seringkali hanya menjadi pengetahuan dan bukan pengalaman. Dengan demikian kita membiarkan hidup kita tinggal dalam dosa pengabaian firman Tuhan. Bagaimana seseorang bisa mengaku beriman jika ia tidak pernah mau sepenuhnya melaksanakan perintah Tuhan? “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Yakobus 4 17
KonflikItu Perlu. Komentar: Kompas.com. Kompas.com. Kesehatan. Konflik Itu Perlu. 04/06/2008, 09:31 WIB. Bagikan: "Nah, perbedaan-perbedaan ini merupakan unsur yang bisa menimbulkan konflik," ujar Ieda Poernomo Sigit Sidi. Tak masalah apakah pasangan tersebut sudah berpacaran dalam waktu lama sekalipun, "konflik tetap saja
Pertanyaan Salah seorang temanku pernah bertanya kepadaku sejak lama yaitu apakah sah wudhunya tanpa berkumur dan istinsyaq memasukkan air ke hidung karena ayat Al-Qur’an tidak merinci masalah ini. Akan tetapi dijelaskan secara umum yaitu membasuh wajah. Apakah wudhu saya sah kalau saya lupa atau sengaja hanya membasuh wajah tanpa berkumur dan istinsyaq. Apakah dibolehkan kalau hari ini saya mandi dengan niat wudhu tanpa berkumur atau istinsyaq apakah hal itu sah seperti halnya dalam berwudhu? Terima kasih Teks Jawaban Alhamdulillah. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berkumur dan beristinsyaq memasukkan air ke hidung dalam wudhu dan mandi. Yang kuat di antara pendapat tersebut adalah bahwa kedunya wajib. Maka, tidak sah berwudhu dan mandi kecuali dengan melakukan keduanya. Karena kedunya masuk wajah yang diperintahkan dalam ayat yang mulia. Al-Hijawi dalam kitab Az-Zad’ dalam bab Furudhul wudhu wa sifatuhu, hal. 29 mengatakan, “Kewajiban wudhu ada enam, membasuh wajah –termasuk mulut dan hidung- membasuh kedua tangan dan mengusap kepala –termasuk kedua telinga- dan membasuh kedua kaki dan membasuh kaki sampai ke mata kaki. Tertib dan terus menerus, yaitu tidak mengakhirkan membasuh anggota tubuh sampai kering anggota tubuh sebelumnya.” Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam penjelasannya mengatakan, “Perkataan termasuk mulut dan hidung' maksudnya dari wajah. Karena keberadaannya di sana, maka dianggap masuk dalam pengertian wajah. Dengan demikian, maka berkumur dan istinsyaq termasuk kewajiban wudhu. Akan tetapi keduanya tidak sendirian. Keduanya seperti sabda Nabi sallallahu’alaihi wa sallam أمرت أن أسجد على سبعة أعظم ، على الجبهة ، وأشار بيده على أنفه “Saya diperintahkan bersujud di atas tujuh anggota tubuh; Di atas kening dan beliau memberikan isyarat ke hidungnya.” Meskipun persamaannya tidak pada semua sisi.” As-Syarhul Mumti, 1/119 Para ulama dalam Al-Lajnah Ad-Daimah Lil ifta’ mengatakan, “Dinyatakan ketetapan bahwa berkumur dan istinsyaq dalam wudhu termasuk perbuatan Nabi dan sabdanya sallallahu’alaihi wa salla. Keduanya masuk dalam membasuh muka. Maka wudhu tidak sah bagi orang yang meninggalkan keduanya atau salah satunya.” Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 4/78 Syekh Sholeh Al-Fauzan rahimahullah berkata, “Siapa yang membazuh wajahnya dan meninggalkan berkumur dan isitnsyaq atau salah satunya, maka wudhunya tidak sah. Karena mulut dan hidung termasuk wajah sebagaimana firman Allah ta’ala, “Maka basuhlah wajah-wajah kalian.” Maka Allah memerintahkan untuk membasuh semua wajahnya. Siapa yang meninggallkan sesuatu, maka dia tidak termasuk orang yang melaksanakan perintah Allah ta’ala. Dan Nabi sallallahu’alaihi wa sallam berkumur dan beristinsyaq." Al-Mulakhas Al-Fiqhi, 1/41. Adapun keberadaan ayat yang tidak menyebutkan berkumur dan istinsyaq, hal itu bukan berarti tidak wajib. Karena sunnah merupakan penjelasan Al-Qur’an. Sementara sunnah menjelaskan berkumur dan istinsyaq. Dan dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah melalaikan keduanya atau salah satunya dalam berwudhu. Maka hal ini merupakan penjelasan perintah yang ada dalam Al-Qur’an dengan membasuh wajah ketika bersuci. Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Al-Mughni, 1/83 mengatakan, “Semua orang yang menyebutkan cara wudhu Nabi sallallahu’alaihi wa sallam secara rinci menyebutkan bahwa beliau berkumur dan beristisnyaq. Terus menurus akan keduanya menunjukkan akan kewajibannya. Karena prilaku beliau, layak dijadikan sebagai penjelasan dan perincian dalam berwudhu yang diperintahkan dalam kitabullah.” Siapa yang meninggalkan berkumur atau beristinsyaq dalam bersuci, maka tidak sah bersucinya. Baik secara sengaja atau lupa. Al-Mardawi dalam kitab Al-Inshaf, 1/153 mengatakan, “Perkataan Keduanya wajib dalam bersuci maksudnya adalah berkumur dan beristinsyaq. Ini adalah pendapat secara umum dalam madzhab, dan termasuk pendapat teman-teman. Apakah gugur kalau lupa atau tidak? Ada dua riwayat… Az-Zarkasyi mengatakan, “Beliau mengatakan wajib. Maka meninggalkan keduanya atau salah satunya meskipun lupa, tidak sah wudhunya. Hal itu adalah pendapat jumhur. Dalam kitab Ar-Ri’ayah Al-Kubra’ mengatakan, “Tidak gugur meskipun lupa menurut pendapat yang terkenal. Dan didahulukan dalam kitab Ri’ayatus Sugro.” Para ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Lil Ifta’ mengatakan, “Kalau seseorang lupa membasuh salah satu anggota tubuh atau bagian tubuh meskipun itu kecil. Jika di tengah wudhu atau langsung setelahnya dan bekas air masih ada di anggota tubuhnya sementara airnya belum kering, maka dia harus membasuh bagian yang terlupakan dan setelahnya saja. Tapi, kalau dia sadar bahwa dia lupa membasuh salah satu anggota wudhu atau sebagian dari anggota wudhu setelah airnya kering dari anggota tubuh, atau di tengah shalat atau setelah menunaikan shalat, maka dia harus memulai wudhu yang baru, sebagaimana yang Allah perintahkan dan mengulangi shalat secara penuh. Karena ketiadaan muwalah berurutan dalam kondisi ini dan lamanya waktu terpisah. Sementara Allah Subhanahu wa ta’ala mewajibkan membasuh semua anggota tubuh wudhu. Barangsiapa meninggalkan bagian anggota wudhu, meskipun sebagian di antara anggota wudhu, maka dia bagaikan meninggalkan membasuh semuanya. Yang menunjukkan akan hal itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Umar bin Khatab radhiallahu anhu, dia berkata رأى رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا توضأ فترك موضع الظفر على قدمه ، فأمره أن يعيد الوضوء والصلاة . قال فرجع فصلى أخرجه مسلم، رقم 243 وابن ماجه، رقم 666 “Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam melihat seseorang berwudhu dengan meninggalkan tidak membasuh sebesar kuku di kakinya. Maka beliau menyuruhnya untuk mengulangi wudhu dan shalat. Lalu dia dia mengulangi wudhunya dan shalat lagi.” HR. Muslim, 243 Ibnu Majah, 666 Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 4/92. Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Tertib dalam wudhu termasuk wajib. Oleh karena itu, kalau dia berwudhu, kemudian setelah keluar dari tempat wudhu melihat sikunya tidak terkena air. Maka dia harus kembali dan membasuhnya kemudian mengusap kepala dan membasuh kedua kakinya. Sementara kalau dia mendapatkan kedua kakinya tidak terkena air, maka cukup membasuh kedua kakinya saja. Karena kedua kaki termasuk bagian terakhir anggota tubuh wudhu. Kalau dia lupa berkumur dan beristinsyaq, maka dia harus melakukan keduanya, kemudian membasuh kedua tangan sampai siku. Mengusap kepada dan membasuh kedua kakinya. Jadi dia mengulangi bagian wudhu yang kurang sempurna dan anggota wudhu setelahnya. Kecuali kalau jeda waktunya lama, maka dia harus mengulangi wudhu secara sempurna.” As-Syarhul Al-Mukhtasor Ala Bulughil Maram, 2/73 Silahkan merujuk di link berikut ini untuk tambahan manfaat, silahkan melihat jawaban soal no. 149908. Wallahua'lam .
BincangSyariahCom – Sudah bukan rahasia lagi bahwa laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa, pasti tumbuh bulu di sekitar kemaluan masing-masing.Sama seperti bulu di bagian anggota badan yang lain, mencukur bulu kemaluan itu sunah. Ketika bulu di sekitar kemaluan dicabut atau dicukur, apakah wajib menguburnya atau dibuang begitu saja?
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. [caption id="attachment_84425" align="alignleft" width="300" caption="....illustrasi ...angkat sidi.."][/caption] Tanggal dua puluh enam desember tahun lalu adalah sebuah momentum penting bagi adik-adik saya dalam hidup mereka. bukan karena mereka berulang tahun pada tanggal itu atau karena ada perayaan natal tuntunan tapi karena pada tanggal itulah mereka bersaksi di depan Tuhan, Jemaat, keluarga dan diri mereka sendiri sebagai seorang saksi dari Tuhan dan menerima Tuhan. Di daerah kami, peristiwa seperti ini sering kami sebut sebagai proses malua, yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia berarti lepas. Dalam bahasa Indonesia proses malua ini sering disebut sebagai angkat sidi. Persepsi yang saya tangkap tentang lepas disini adalah Lepas dari tanggung jawab orang tua. kami percaya bahwa seseorang beragama kristiani yang belum angkat sidi maka dosanya masih ditanggung oleh kedua orang tauanya hingga ia malua atau angkat sidi. Angkat sidi atau malua secara garis besar dapat diartikan sebagai titik dimana seseorang menjadi saksi dari Tuhan, menerima Tuhan dalam dirinya dan masuk dalam perjamuanya. Proses untuk mendapatkan sidi ini bukanlah semudah mengucap kata saja. ada banyak hal yang harus dipersiapkan ketika seseorang ingin disidikan. Bukan hanya dilihat dari kematangan umur tapi juga dilihat dari kesiapan dan kematangan ilmu pengetahuan tentang agama dan kitab suci. Berdasarkan apa yang pernah alami plus info tambahan yang diberikan adik-adik saya maka biasanya dibutuhkan waktu sekitar setahun untuk mendapatkan ijin proses sidi ini. Dalam setahun ini, kita anggota yang ingin disidikan akan mengikuti semacam bimbingan agama dan kitab suci yang diberikan oleh panita atau pelayaan jemaat. Adapun materi yang akan diberikan adalah penguatan iman ditambah pengetahuan umum seputah kitab suci, 10 perintah Tuhan titah, doa kesaksian, doa bapak kami dan lain lain. Bimbingan biasanya dilakukan sekali seminggu dan diakhir bimbingan akan diadakan test materi atau test kematangan yang didampingi kedua orang tua calon sidi juga. bila seseorang mendapatkan nilai yang layak maka ia akan diijinkan mengikuti proses sidi dan jika memang kurang maka akan direkomendasikan untuk mengikuti program bimbingan di tahun berikutnya. Bagi mereka mereka yang dinyatakan lulus akan diadakan semacam perjamuan bersama didepan jemaat pada tanggal yang akan ditentukan dalam waktu dekat. Dalam upacara pemberian sidi kepada setiap orang yang telah lulus tadi, maka ia juga akan dipangil secara perorangan dan akan diberikan sebuah ayat pengingat yang diambil dari kitab suci bible. Ayat yang ia terima merupakan refleksi dari kepribadian dan prilaku si penerima sidi tersebut. Contohnya bila ia memiliki perilaku atau sikap yang baik maka niscaya ayat yang ia terima sebagai pengingat dalam hidupnya akan baik pula. Penentuan ayat mana yang akan diberikan kepada setiap orangnya adalah tanggung jawab dari Pendeta. Bagimana ia mendapatkanya? Adapun caranya adalah dengan cara mendoakan si calon penerima sidi kepada Tuhan dan setelah itu sang pendeta pun membuka alkitab dan menunjuk satu ayat dengan mata tertutup tentunya. Nah ayat mana yang ditunjuk jarinya maka itulah yang diberikan pada nama yang ia doakan. Banyak cara dan metode yang umum dilakukan untuk menadai proses pemberian sidi, ada yang melalui percikan air di kepala , ada yang memandikan dikolam tapi ada juga yang hanya melalui pemberkatan, penjamahan yang diberikan sang pendeta. Tapi intinya semua sama saja. Pada hari H datang maka, setiap penerima sidi akan ditemani oleh kedua orang tua mereka. Pada saat pemberkatan berlangsung, satu moment yang menjadi paling mengharukan adalah disaat sang Pendeta menyerukan pada setiap calon sidi untuk merenungi setiap perbuatan yang ia telah lakukan dan menyatakan penyesalanya dan berjanji untuk tak mengulanginya. Setelah itu, merekapun haruslah bersujud didepan kedua orang tua mereka dan meminta ampun. Air matapun pastinya berceceran disini dan saling berpelukan dengan keluarga masing-masing. Pakaian yang serba putihpun adalah salah satu symbol dari pelaksanaan proses sidi. Warna putih berarti bersih dan suci. Dapat diartikan bahwa proses ini adalah proses yang sacral, suci dan sebuah pengharapan agar kelak agar si penerima sidipun memiliki sifat, watak dan pemikiran yang bersih pula. Dalam kebudayaan batak, angkat sidi merupakan salah satu syarat bagi setiap orang sebelum melangsungkan perkawinan. Jadi bila seseorang belum angkat sidi maka ia pun tidak akan diberkati dalam proses perkawinanya. Tapi diatas semua itu, bukanlah untuk kawin saja tujuan utama dari angkat sidi, selain sebagai tanda bahwa kita telah diangkat menjadi jemaat baru dalam sebuah persekutuan gereja, angkat sidi itu membuktikan bahwa kita menerima Tuhan sebagai Tuhan kita dan bersaksi untuknya serta masuk dalam perjamuaNYA yang kudus. Amen!!! Salam, sumber gambar Lihat Sosbud Selengkapnya
Salahsatu momen paling krusial bagi Yesus adalah pergumulan di Taman Getsemani. Pada momen ini kita dapat melihat betapa Yesus sangat bergumul dengan apa yang akan Dia hadapi. Dia sendiri menyatakan betapa beratnya pencobaan yang Dia alami kepada murid-murid-Nya. Walaupun peristiwa ini ditulis di 3 injil, namun kita hanya akan menyoroti dari
Apa itu sidi? sidi adalah kata yang memiliki artinya, silahkan ke tabel berikut untuk penjelasan apa arti makna dan maksudnya. Pengertian sidi adalah Kamus Definisi Bahasa Indonesia KBBI ? sidi Kris] anggota yang sah dari gereja [a] sempurna purnama — , bulan purnama penuh raya Malaysia Dewan ? sidi I sl sj gelaran pd pangkal nama S~ Ali Hishamuddin. sidi II 1. sl makbul atau diterima doa, jampi, dll, sah sah ~ pengajaran guruku; 2. Id anggota yg sah dr gereja Kristian Protestan. Bahasa Sansekerta ? sidi sempurna, bulat — Dr. Purwadi, — Eko Priyo Purnomo, SIP Definisi ? sidi kb, anggota yang sah dari gereja; ks, sempurna. Loading data ~~~~ 5 - 10 detik semoga dapat membantu walau kurangnya jawaban pengertian lengkap untuk menyatakan artinya. pada postingan di atas pengertian dari kata “sidi” berasal dari beberapa sumber, bahasa, dan website di internet yang dapat anda lihat di bagian menu sumber. Istilah Umum Istilah pada bidang apa makna yang terkandung arti kata sidi artinya apaan sih? apa maksud perkataan sidi apa terjemahan dalam bahasa Indonesia
Sementaraitu, media sosial yang paling sering diakses yakni YouTube, WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok. Kabar buruknya, netizen Indonesia dikenal sebagai pengguna internet dengan tingkat kesopanan paling rendah di Asia Tenggara. Untuk itu, menurut Wildan, netizen Indonesia perlu mempelajari cara berinternet sehat dan aman.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan basuh kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air kakus atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik bersih; sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” QS Al-Maidah 6Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa islam sangat mewajibkan umatnya untuk menjaga kebersihan dan kesucian diri. Fungsi Al-Quran bagi umat manusia, salah satunya adalah memberikan informasi terkait kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah menjaga kebersihan dan kesucian. Menjaga kebersihan dan kesucian adalah sebagian dari iman. Dalam ajaran islam, setiap muslim harus mampu menjaga kebersihan dan kesuciannya, terutama ketika akan melaksanakan ibadah habluminallah.Pengertian mandi wajibCara untuk menjaga kebersihan dan kesucian diri adalah dengan mandi dan berwudhu. Namun, dalam islam dikenal dengan istilah mandi wajib. Mandi wajib ini adalah sebuah aturan dari Allah untuk umat muslim dalam kondisi tertentu dan syarat tertentu. Bagaimana sebetulnya mandi wajib dan cara untuk melaksanakannya, akan dibahas dalam artikel di bawah bahasa arab, mandi berasal dari kata Al-Ghuslu, yang artinya mengalirkan air pada sesuatu. Menurut istilah, Al-Ghuslu adalah menuangkan air ke seluruh badan dengan tata cara yang khusus bertujuan untuk menghilangkan hadast besar. Mandi wajib dalam islam ditujukan untuk membersihkan diri sekaligus mensucikan diri dari segala najis atau kotoran yang menempel pada tubuh manusia. Untuk itu, mandi wajib diharuskan sebagaimana dalam Ayat yang Mensyarakatkan Mandi Wajib dalam IslamDalam Islam, ada kondisi-kondisi dimana seorang muslim atau muslimah diwajibkan untuk melaksanakan mandi mandi wajib. Hal-hal tersebut membuat seseorang terhalang untuk shalat, masuk ke dalam masjid, dan juga melaksanakan ibadah lainnya karena dalam kondisi yang tidak Air Mani Setelah Junub “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula hampiri mesjid sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi”. QS An-Nisa 43Dalam ayat diatas ditunjukkan bahwa setelah berjunub berhubungan suami istri, yang dimana antara laki-laki atau perempuan akan mengeluarkan cairan dari kemaluannya, maka wajiblah ia untuk melaksanakan mandi wajib setelahnya. Sedangkan jika tidak, ia tidak bisa shalat dan menghampiri masjid, dan jika dilalaikan tentu akan berdosa, karena meninggalkan yang itu, sebagaimana Rasulullah SAW dalam sebuah hadist, mengatakan bahwa“Diriwayatkan dari Abu Sa’id berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Mandi diwajibkan dikarenakan keluar air mani” HR. Muslim“Diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Ummu Sulaim berkata,’Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak malu tentang masalah kebenaran, apakah wanita wajib mandi apabila dia bermimpi? Nabi saw menjawab,’Ya, jika dia melihat air.” HR. Bukhori Muslim dan lainnyaSayyid Sabiq, seorang ulama fiqh mengatakan tentang persoalan keluarnya air mani dan mandi wajib, hal-hal tersebut adalah berikut Jika mani keluar tanpa syahwat, tetapi karena sakit atau cuaca dingin, maka ia tidak wajib seseorang bermimpi namun tidak mendapatkan air mani maka tidak wajib baginya mandi, demikian dikatakan Ibnul seseorang dalam keadaan sadar tidak tidur dan mendapatkan mani namun ia tidak ingat akan mimpinya, jika dia menyakini bahwa itu adalah mani maka wajib baginya mandi dikarenakan secara zhohir bahwa air mani itu telah keluar walaupun ia lupa mimpinya. Akan tetapi jika ia ragu-ragu dan tidak mengetahui apakah air itu mani atau bukan, maka ia juga wajib mandi demi seseorang merasakan akan keluar mani saat memuncaknya syahwat namun dia tahan kemaluannya sehingga air mani itu tidak keluar maka tidak wajib baginya seseorang melihat mani pada kainnya namun tidak mengetahui waktu keluarnya dan kebetulan sudah melaksanakan shalat maka ia wajib mengulang shalatnya dari waktu tidurnya terakhirBertemunya/bersentuhannya alat kelamin laki-laki dan wanita, walaupun tidak keluar maniDiriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila seseorang duduk diantara anggota tubuh perempuan yang empat, maksudnya; diantara dua tangan dan dua kakinya kemudian menyetubuhinya maka wajib baginya mandi, baik mani itu keluar atau tidak.” HR. Muslim danDiriwayatkan dari Aisyah ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda,”Apabila dua kemaluan telah bertemu maka wajib baginya mandi. Aku dan Rasulullah saw pernah melakukannya maka kami pun mandi.” HR. Ibnu MajahDari hadist di atas dapat dipahami bahwa bila suami-istri yang telah berhubungan badan, walaupun tidak keluar mani, sedangkan telah bertemunya kemaluan dia antara keduanya, maka wajib keduanya mandi wajib, untuk mensucikan dan Nifas “Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” QS Al-Baqarah 222Darah yang dikeluarkan dari proses Haidh dan Nifas statusnya adalah suatu kotoran, najis, dan membuat tidak suci diri wanita. Untuk itu wanita yang telah melewati haidh dan nifas, maka wajib baginya untuk bersuci dengan mandi wajib, agar bisa kembali beribadah. Hal ini disebabkan ada larangan saat haidh dan nifas untuk melangsungkan shalat dan puasa, sebelum benar-benar suci dari hadast. Sedangkan menundanya, merupakan kedosaan karena meninggal hal wajib, yang dalam kondisi telah melewati haidh atau mandi atau Keramas saat haidh tentunya tidak menjadikan diri muslimah suci, sebelum benar-benar berhentinya darah haidh dan nifas. Hal ini pun sebagaimana dalam Hadist Rasulullah, wanita dalam kondisi haidh dilarang shalat dan wajib untuk mandi Rasulullah saw kepada Fatimah binti Abu Hubaisy ra adalah,”Tinggalkan shalat selama hari-hari engkau mendapatkan haid, lalu mandilah dan shalatlah.” Muttafaq AlaihSebetulnya bagi wanita, ada kondisi dimana melahirkan diwajibkan juga untuk mandi wajib. Namun, hal ini terjadi perbedaan pendapat antar ulama fiqh. Secara umum mewajibkan, sedangkan yang lainnya ada yang tidak mewajibkan. Muslimah bisa mengambil mana yang sesuai dengan keyakinan hati dan pertanggungjawaban masing-masing kematian “Dari Ibnu Abbas RA, bahwasanya Rasulullah saw bersabda dalam keadaan berihram terhadap seorang yang meninggal terpelanting oleh ontanya,”Mandikan dia dengan air dan daun bidara.” MuslimOrang yang mengalami kematian, ia wajib untuk dimandikan. Untuk itu mandi wajib ini berlaku pula bagi yang meninggal, walaupun ia bukan mandi oleh dirinya sendiri, melainkan dimandikan oleh orang-ornag yang lain. Untuk pelaksanaannya, maka setelah dimandikan ada pelaksanaan shalat jenazah dalam islam, sebagai shalat terakhir dari dan Cara Pelaksanaan Mandi WajibCara mandi dalam islam disampaikan teknisnya oleh Rasulullah SAW, untuk menunjukkan cara mensucikan diri yang benar. Untuk melaksanakan mandi wajib, berikut cara-caranya yang diambil dari HR Muslim dan Bukhari, mengenai bab tata cara pelaksanaan mandi untuk mengangkat hadas besar Segala sesuatu berasal dari niatnya. Untuk itu, termasuk pada pelaksanaan mandi wajib pun juga harus diawali dari niat. Untuk pelafadzan niat adalah “Aku berniat mengangkat hadas besar kerana Allah Taala”. Setelah itu bisa kita mengucapkan bismillah, sebagai permulaan untuk mensucikan diri. Hal ini dikarenakan ada banyak fadhilah bismillah jika dibacakan seorang muslim dalam seluruh anggota badan yang zahir.“Ummu Salama RA, aku bertanya kepada Rasulullah SAW tentang cara-cara mandi, beliau bersabda, “Memadailah engkau jiruskan tiga raup air ke kepala. Kemudiian ratakannya ke seluruh badan. Dengan cara itu, sucilah engkau” HR MuslimMembasuh semua anggota badan termasuk kulit atau rambut dengan air serta meratakan air pada rambut hingga ke pangkalnya. Selain itu wajib juga membasuh dengan air ke seluruh badan termasuk rambut-rambut, bulu yang ada pada seluruh anggota badan, telinga, kemaluan bagian belakang ataupun dalam kondisi terurai/tidak terikat Untuk mandi besar, maka rambut harus dalam kondisi terurai atau tidak terikat. Hal ini untuk benar-benar mensucikan seluruh tubuh, sedangkan jika terikat maka tidak sempurna mandinya. Dikhawtirkan tidak semua bagian dibasuh atau terkenai air. Selain itu, bisa juga selepas dalam kondisi junub atau haidh bagi wanita mencukur bulu kemaluan. Mencukur bulu kemaluan dalam islam adalah suatu yang juga sangat dianjurkan dan mencukur bulu kemaluan pria dalam islam pun sangat dianjurkan. Hal ini bisa menambah kebersihan, dan tidak banyak kotoran yang bersisa yang masih melekat dalam bulu di perlu diperhatikan walaupun mencukup bulu-bulu atau rambut dianjurkan dalam islam, namun berbeda dengan mencukur alis. Untuk itu, ada hukum mencukur alis dalam islam yang perlu diperhatikan, terutama bagi kaum wewangian bagi wanita yang setelah haid “Ambillah sedikit kasturi kemudin bersihkan dengannya”Hal ini sifatnya tidak wajib, melainkan sunah saja. Untuk wanita, maka bisa memberikan semacam wewangian ataupun sari-sari bunga yang bisa membersihkan dan membuat wangi kemaluannya, dimana telah terkena darah haid selama periodenya. Untuk itu di zaman Rasulullah diberikan bunga kasturi, sedangkan di zaman sekarang ada banyak sari-sari bunga atau hal lainnya yang bisa lebih membersihkan, mensucikan, dan membuat Mandi Wajib yang Baik Menurut RasulullahHal-hal berikut adalah cara mandi yang baik menurut Rasulullah dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Muslim yang melaksanakannya maka akan sesuai sebagaimana Rasulullah melakukannnya. Tahapannya adalah sebagai berikut Terlebih dahulu mencucui tangan sebanyak tiga kali, sebelum tangan tersebut digunakan mandi, atau dimasukkan ke dalam tempat pengambilang atau penampungan airUntuk membersihkan kemaluan dan kotoran, maka hendaklah untuk menggunakan tangan kiri, bukan tangan kanan. Tangan kanan digunakan untuk makan, sedangkan tidak mungkin menggunakannya untuk membersihkan membersihkan kemaluan, maka cucilah tangan dengan menggosokkannya pada tanah, bisa juga dengan sabun agar hilang kotoran tersebut dari dengan cara berwudhu yang benar sesuai aturan/rukunnya dalam islam, selagi akan melakukan air pada kepala sebanyak tiga kaliMencuci kepala keramas mulai dari kepala bagian kanan ke bagian kiri dan membersihkannya hingga sela-sela rambut, agar benar-benar bersih dan sempurnaMengguyur air mulai dari sisi badan sebelah kanan lalu pada sisi sebelah kiriHal yang makruh saat melaksanakan mandi wajibMenggunakan air secara berlebihan “Nabi SAW mandi dengan segayung hingga lima gayung air dan berwudhu dengan secupak air” HR Bukhari dan Muslim“Cukuplah engkau mandi dengan segantang air. Lalu seorang lelalki berkata, ini tidak mencukupi bagiku. Jabir menjawab, Ia telah pun mencukupi bagi orang yang lebih baik dan rambutnya lebih lebat daripada engkau yakni Rasulullah SAW” HR Bukhari dan MuslimDalam hadist di atas dijelaskan oleh Rasulullah bahwa untuk melaksanakan mandi, maka tidak perlu berlebihan menggunakan air. Air yang digunakan adalah secukupnya dan tidak menghambur-hamburkannya. Hal ini mengingat bahwa dalam ajaran islam tidak mengajarkan sikap berlebih-lebihan termasuk dalam menggunakan dari air yang tenang “Janganlah seseorang daripada kamu yang junub mandi di dalam air yang tenang. Orang ramai bertanya. Wahai abu hurairah bagaimanakah sepatutnya dia lakukan? Abu hurairah menjawab, ambil air. Dengan tangan atau bekas kecil beserta niat mencedok sekiranya air itu sedikit, supaya tidak menjadi musta’mal disebabkan bersentuh dengan tangan, atau ambil sedikit air dari bekas sebelum berniat mengangkat janabah. Kemudia berniat, memasuh tangan, dan ambilah air seterusnya dengan tangannya itu” Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa hendaknya muslim yang akan melaksanakan mandi wajib, menggunakan air yang tata cara pelaksanaan mandi wajib, semoga kita senantiasa menjadi muslim yang selalu membersihkan diri. Karena, mensucikan diri lahir dan batin, adalah salah satu fungsi agama yang harus dijalankan setiap muslim.
Akarkata dari ”gereja” bukan berhubungan dengan gedung, namun dengan orang. Adalah ironis bahwa saat Anda bertanya kepada orang mereka pergi ke gereja apa, biasanya mereka akan mengatakan Baptis, Metodis, atau denominasi lainnya. Banyak kali mereka menunjuk pada denominasi atau pada bangunan.
1. Biasanya pada saat peneguhan sidi, kita berusaha merenungkan tentang apa itu arti Sidi, baik bagi kita yang sudah sidi, ataupun bagi mereka yang belum menganggap pentingnya sidi itu. Para orang tua mendorong anak-anak mereka . untuk mengikuti katekisasi dan merasa puas apabila anak mereka telah sidi. Sebab sidi biasanya dianggap sebagai ukuran keberhasilan orang tua. dalam mendidik anak mereka secara Kristiani. Bahkan ada juga yang menganggap bahwa dengan sidi, beban orang tua menjadi ringan. Karena anaknya telah dapat "berdiri sendiri" dan dosa mereka tidak lagi "dipikul" orang tua. Anggapan demikian tidak seluruhnya benar, karena katekisasi dan sidi itu sendiri tidak menjamin kualitas iman seseorang, apalagi menyelamatkannya. Biasanya katekisasi hanya berlangsung sekitar 6 bulan s/d 1 tahun dengan 1 atau 2 x pertemuan setiap minggu, sebenarnya dengan jumlah pertemuan itu, tidaklah dapat menampung materi yang akan diajarkan Gereja. Belum lagi kebutuhan dan tantangan yang dihadapi para katekisan itu sendiri yang perlu dibahas dalam pertemuan-pertemuan tersebut. Di lain pihak buku pedoman yang tersedia sebagai buku materi pelajaran belum memenuhi persyaratan yang dituntut oleh i1mu pendidikan dalam rangka memperlengkapi seseorang untuk mencapai taraf kedewasaan iman. Belum lagi kemampuan para pengajar katekisasi yang pada umumnya kurang mempersiapkan diri dengan materi penunjang lainnya• yang dapat memperkaya pelajaran katekisasi, dan metode yang cocok dalam mengajar karena kesibukan melayani biasanya yang mengajar katekisasi adalah pendeta di jemaat tsb. Katekisasi sidi merupakan salah satu pelayanan gereja yang sangat penting. Kegiatan ini pada abad modern ini di tempat dalam rangka pendidikan agama Kristen yang berlangsung bagi seseorang sejak dari kandungan ibu hingga kandungan bumi mati. Oleh karena itu setiap orang yang mengikuti katekisasi harus mempersiapkan diri dengan baik, demikian juga setiap pengajar harus mempersiapkan diri dengan pengetahuan, pemahaman yang benar dan keterampilan yang baik, sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara bertanggung-jawab sebagai upaya pendidikan warga Untuk memahami pernyataan di atas, pertama-tama kita perlu mengikuti uraian singkat tentang latar belakang Katekisasi. Orang Israel, melaksanakan pendidikan agama mulai keluarga-keluarga• bnd Ulangan 6. Kebiasaan ini tidak pernah berubah sekalipun Bait Allah dihancurkan dan umat menderita. Rumah-rumah ibadat sinagoge yang didirikan di berbagai pelosok diisi dengan kegiatan-kegiatan pendidikan. Setelah pembuangan ke Babel abad IV SM, maka kegiatan pendidikan sekitar rumah-rumah ibadat makin ditingkatkan. Angkatan muda dididik secara intensif dalam dua kategoria. tingkat dasar yang disebut Beth-Hasepher, yang berarti Rumah Buku. Semua anak yang berumur 6 tahun diwajibkan memasuki Rumah Buku. Di sana mereka belajar bahasa Ibrani, menghafalkan buku-buku Taurat 5 buku Musa, Kejadian - Ulangan, Mazmur dan Raja¬raja. Pada saat anak berumur 9 tahun, anak-anak itu diharapkan sudah mampu membaca dengan menghafal seluruh kitab dalam Perjanjian Lama dalam bahasa Tingkat lanjutan yang disebut Beth-Hammidrasy atau Beth-Talmud yang berarti Rumah Midras atau Rumah Talmud. Di rumah pendidikan ini mereka belajar misyna, yaitu penafsiran tentang isi Taurat secara lengkap. Para anak didik mendapat latihan dan keterampilan untuk menghubungkan ajaran Taurat dengan kenyataan hidup setiap hari. Peserta Pendidikan Rumah Midras adalah anak-anak usia 10 - 13 tahun. Selain mendapat pelajaran Agama, juga mempelajari ilmu hitung, ilmu bintang, ilmu bumi dan. ilmu hayat sebagai pelengkap untuk menyoroti penafsiran Taurat. Mereka dapat mengkritik seorang rabbi guru bahkan mengecamnya, disamping mempertahankan pendapat-pendapat gurunya sendiri. Lukas 246 menyaksikan bahwa Yesus juga mengalami pendidikan seperti ini dan seperti anak Yahudi lainnya pada usia 12 tahun dilantik sebagai warga umat yang dapat kita• samakan dengan peneguhan Sidi kita pada masa kini. Murid Yesus juga mengalami pendidikan seperti ini. Tidak tepat bila kita katakan bahwa mereka adalah orang-orang yang buta huruf. Kisah Para Rasul 14 13 memberikan kesan bahwa Petrus dan Yohanes adalah orang-orang bodoh. Sebenarnya istilah tidak terpelajar atau orang biasa dalam ayat tersebut menyatakan bahwa Petrus dan Yohanes tidak menempuh Ahli Taurat pendidikan Tinggi seperti Rasul Paulus Selanjutnya dalam gereja purba abad I-IV juga dikenal pendidikan Agama khususnya bagi orang-orang yang baru menganut agama Kristen. Cara dan isi pengajaran mengambil bentuk seperti pendidikan Yahudi. Seorang Kristen baru calon baptis yang umumnya telah dewasa harus menghafal Taurat, Doa Bapa Kami, Pengakuan Iman, dan menyelami rahasia Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus. Dalam menghafal itu, Taurat dan ucapan-ucapan Tuhan Yesus diulang-ulangi dan diresapi dengan iman, demikian juga dengan ajaran para Rasul. Mula-mula persiapan calon baptisan dilakukan dengan singkat 4029,30,37; 1029. Lama-kelamaan pendidikan formal dibentuk dengan nama Katekumenat. Pendidikan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan orang-orang Kristen baru supaya mewujudkan Imannya dalam gereja dan masyarakat. Lama tergantung dari keadaan dan kebutuhan. Ada yang 3 bulan tapi juga dapat menjadi 3 tahun. Selain para peserta didik menerima pelajaran agama dan tafsiran, juga bahasa, filsafat dan juga ilmu sains seperti ilmu ukur, berhitung, dan ilmu hayat. Sesudah itu mereka dibaptis dan diharapkan menjadi orang Kristen yang terampil dan mampu mempertahankan imannya. Dari istilah Katekumat ini muncul sekolah Katekisasi yang kemudian dikembangkan terpisah setelah ilmu pengetahuan semakin berkembang pada abad pertengahan abad VI - XV. Yohanes Calvin, reformator abad XVI mengembangkan pendidikan katekisasi dalam rangka persiapan diri untuk sidi. Calvin menyusun bahan-bahan pelajaran yang dapat diajarkan dalam 55 kali pertemuan sebelum sidi. Jadi lamanya katekisasi ditentukan oleh bahan yang diajarkan. 55 pokok itu dapat dilaksanakan dalam jangka waktu singkat, misalnya minimal 3 bulan dan maksimal 3 tahun. Setelah katekisasi, seseorang dapat diteguhkan sebagai warga jemaat yang karena imannya, dalam menyambut anugerah Allah, mengambil bagian dalam pelayanan Kristus, maka ia ikut serta dalam Perjamuan Kudus. Kata "Sidi" secara historis sulit ditelusuri asal-usulnya. Ada dugaan bahwa kata ini berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya sempurna bnd kata purnama sidi. Ada juga yang mengatakan berasal dari bahasa Melayu "Sidik" sidik jari atau "sidi" yang sama dengan penyelidikan, pemeriksaan. Ada lagi yang mengatakan berasal dari bahasa lbrani, "Tsadik" yang berarti bijak. Sehingga konon, orang-orang yang telah sidi berarti mereka yang telah diselidiki pengetahuan dan pemahamannya tentang Firman' Allah dan oleh anugerah Allah memiliki hikmat dan kesempurnaan hidup. Semua warga jemaat patut• menempuh pendidikan untuk bertumbuh dalam iman, sebagaimana Tuhan Yesus sendiri menempuh proses pendidikan itu melalui Rumah Buku dan Rumah Midras lalu Ia "Sidi" pada usia 12 tahun. Jewede
Karenadaya pikat itu, peneliti mencoba mengkajinya dan agar kajian ini, khususnya bab IV ini mudah dipahami agaknya perlu juga memaparkan sinopsis cerpen Robohnya Surau Kami tesebut. Sinopsisnya itu seperti yang dipaparkan di bawah ini. Karena dia merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya.
JAKARTA – Al-Azhar Kairo Mesir mengeluarkan pernyataan resmi terkait hukum wajib hijab bagi setiap Muslimah yang baligh dan berakal. Ini berdasarkan sumber-sumber hukum dalam Alquran dan kesepakatan ulama. Pernyataan ini merupakan bantahan terhadap sebagian kalangan yang menyebut hijab sebagai budaya, atau tradisi yang tersebar di masa Nabi Muhammad SAW. Pendapat yang menyatakan demikian merupakan pendapat pribadi yang ditolak Al-Azhar. Pendapat yang menyatakan hijab tidak wajib bertentangan dengan kesepakatan kaum Muslimin pada 15 abad yang lalu. Al-Azhar juga menyampaikan, pendapat yang membantah wajibnya mengenakan hijab merupakan pintu masuk yang melemahkan ketetapan agama dan menjauhi ketentuan syariat serta kesepakatan para ulama. Dalih kebebasan dalam memahami nash justru merusak pendekatan ilmiah. Kontroversi tentang tidak wajibnya hijab muncul setelah pernyataan yang disampaikan guru besar Ilmu Perbandingan Fiqih Universitas Al-Azhar, Dr Saad El-Din El-Hilali, mengenai hijab. Dia berpandangan bahwa hukum yang berkaitan dengan aurat adalah hukum adat. "Hukum perihal aurat adalah hukum adat. Dan hukum adat ini diakhiri oleh para ulama fiqih dengan menyatakan bahwa menutup aurat adalah wajib. Lantas apakah hijab itu wajib? Frasa wajib menutup aurat jadi menyimpang maknanya karena berubah menjadi wajib berhijab," jelas El-Hilali menyampaikan pandangannya. Ketua Jurusan Fiqih Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Al-Azhar Kairo, Dr Abu Bakar Yahy, menjelaskan, perkara hijab dan kewajiban untuk mengenakannya bagi Muslimah telah ditetapkan dalam Alquran, sunnah, dan kesepakatan atau ijma ulama yang sifatnya sharih jelas dan tidak mengandung makna lain. Baca juga Neom Megaproyek Ambisius Arab Saudi, Dirikan Bangunan Terbesar di Dunia Dia menjelaskan, ada tiga derajat atau tingkatan pada ijma ulama. Pertama adalah ijma sharih, ijma sukuti hanya terdiri dari satu atau sebagian ulama, dan ijma mukhtalaf, yang di dalamnya masih terdapat perbedaan pandangan sehingga dibutuhkan pembahasan dan penelitian lebih lanjut. "Jika yang dibahas adalah terkait ijma sukuti dan ijma mukhtalaf, tentu itu bisa dilakukan. Tetapi ini berbeda dengan ijma sharih, yang disampaikan langsung dari lisan para ulama dan tidak lagi menerima perbedaan pendapat," jelasnya. Abu Bakar Yahya juga menuturkan, perbedaan pendapat soal hijab bagi perempuan hanya pada terlihatnya wajah, tangan dan kaki. Para ulama selalu berusaha untuk memfasilitasi dan mempertimbangkan kebutuhan zaman. "Islam menjaga dan melindungi perempuan. Kesopanan seorang wanita, seperti yang telah disepakati para ulama, membawa kehormatan dan rasa hormat kepada sang perempuan," jelas Abu Bakar Yahya. BACA JUGA Update Berita-Berita Politik Perspektif Klik di Sini
10Syarat Pernikahan Kristen di Catatan Sipil. √ Quality Checked. Review by : Redaksi Tuhan Yesus Org. Pada masa penciptaan manusia, Tuhan ALLAH berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadia 2:18). Sejak semula, Allah tidak menciptakan manusia untuk
Apakah Sidi Itu Wajib – Apakah Sidi Itu Wajib? Pertanyaan ini sering diucapkan orang yang beragama Islam. Sidi adalah perbuatan ibadah yang dikerjakan hanya dalam bulan Ramadhan. Sidi adalah berpuasa dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, mulai dari makan, minum, bercumbu, sampai bersetubuh. Sidi juga dikenal sebagai puasa sunnah – yaitu perbuatan ibadah yang dianjurkan dalam Islam, tetapi bukan sebuah kewajiban. Dalam konteks ini, menjawab pertanyaan “Apakah Sidi itu wajib?” mungkin akan bergantung pada pandangan individu. Beberapa orang berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban, tetapi merupakan suatu upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa Sidi adalah kewajiban, karena tuntutan agama. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban dalam Islam. Mereka berpendapat bahwa Sidi adalah sebuah perbuatan suci yang dianjurkan dalam agama. Mereka juga mengatakan bahwa seorang Muslim tidak boleh meninggalkan Sidi, karena itu akan menjadi dosa. Namun, ada juga beberapa orang yang berpendapat bahwa Sidi adalah sebuah kewajiban. Mereka berpendapat bahwa tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak melakukannya. Mereka juga berpendapat bahwa jika seseorang tidak melaksanakan Sidi, maka ia akan menghadapi konsekuensi yang berat. Kesimpulannya, apakah Sidi itu wajib atau tidak, tergantung pada pandangan individu. Namun, sebagian besar ulama berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban. Mereka berpendapat bahwa Sidi adalah sebuah perbuatan suci yang dianjurkan dalam agama, tetapi bukan sebuah kewajiban. Hal ini juga didukung oleh Al-Quran dan Hadits yang menyatakan bahwa berpuasa adalah sebuah kebaikan yang dianjurkan dalam agama. Oleh karena itu, meskipun Sidi bukanlah sebuah kewajiban, seorang Muslim tetap dianjurkan untuk melaksanakannya. Daftar Isi 1 Penjelasan Lengkap Apakah Sidi Itu – Apakah Sidi Itu Wajib? – Pertanyaan ini sering diucapkan orang yang beragama – Sidi adalah perbuatan ibadah yang dikerjakan hanya dalam bulan – Kebanyakan ulama berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban dalam – Ada orang yang berpendapat bahwa Sidi adalah sebuah – Sidi adalah sebuah perbuatan suci yang dianjurkan dalam agama, tetapi bukan sebuah – Hal ini juga didukung oleh Al-Quran dan Hadits yang menyatakan bahwa berpuasa adalah sebuah kebaikan yang dianjurkan dalam – Meskipun Sidi bukanlah sebuah kewajiban, seorang Muslim tetap dianjurkan untuk melaksanakannya. Penjelasan Lengkap Apakah Sidi Itu Wajib – Apakah Sidi Itu Wajib? Apakah Sidi Itu Wajib? Sidi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan hal-hal yang dianggap sebagai kewajiban masyarakat Muslim. Sebenarnya, istilah ini merujuk pada sejumlah kewajiban yang ditetapkan oleh agama Islam untuk mengikuti. Kewajiban ini termasuk beribadah, berbuat baik, menaati peraturan Islam, dan lainnya. Kewajiban Sidi banyak ditentukan oleh agama dan sosial, dan setiap masyarakat Muslim berbeda-beda. Sebagai contoh, di beberapa daerah, Sidi wajib memakai jilbab, tapi di daerah lain mungkin tidak. Kewajiban Sidi juga bisa bergantung pada konteks situasi. Sebagai contoh, di beberapa daerah, Sidi wajib berpuasa di bulan Ramadan, namun di daerah lain, orang dapat memilih untuk tidak berpuasa dalam kondisi tertentu. Karena ada banyak kewajiban yang berbeda-beda, masyarakat Muslim dapat menggunakan istilah Sidi untuk menggambarkan hal-hal yang dianggap sebagai kewajiban. Biasanya, hal-hal ini berhubungan dengan ibadah, moral, etika, dan lainnya. Sidi bukan hanya berlaku untuk masyarakat Muslim saja, tapi juga digunakan dalam kontek lain. Sebagai contoh, di beberapa daerah, Sidi juga bisa berarti kewajiban untuk mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Di daerah lain, istilah ini mungkin juga digunakan untuk menggambarkan kewajiban sosial, seperti menghormati orang tua. Meskipun istilah Sidi banyak digunakan untuk menggambarkan hal-hal yang dianggap sebagai kewajiban, tidak semua hal yang dianggap sebagai kewajiban adalah Sidi. Sebagai contoh, di beberapa daerah, kewajiban berpuasa tidak selalu disebut sebagai Sidi. Secara keseluruhan, Sidi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sejumlah kewajiban masyarakat Muslim. Ini bisa berupa ibadah, moral, etika, aturan, dan lainnya. Hal-hal yang dianggap sebagai Sidi bervariasi dari satu daerah ke daerah lain, dan tidak semua hal yang dianggap sebagai kewajiban disebut sebagai Sidi. – Pertanyaan ini sering diucapkan orang yang beragama Islam. Pertanyaan Apakah Sidi Itu Wajib?’ sering diucapkan oleh orang-orang yang beragama Islam. Ini adalah pertanyaan yang sering diutarakan oleh orang-orang yang ingin tahu apakah salat, ibadah atau amal yang dilakukan oleh orang lain adalah suatu kewajiban. Sidi adalah sebuat kata yang digunakan untuk menyebut seorang yang lebih tua atau yang lebih berpengalaman dalam keagamaan. Secara harfiah, kata Sidi’ berarti My Master’. Kata ini juga digunakan untuk menyebut seorang guru atau pemimpin spiritual. Pertanyaan Apakah Sidi Itu Wajib?’ berarti apakah salat, ibadah atau amal yang dilakukan oleh orang lain adalah suatu kewajiban. Ini adalah pertanyaan yang sering diutarakan oleh orang-orang yang ingin mengetahui apakah salat, ibadah atau amal yang dilakukan oleh orang lain adalah suatu kewajiban. Menurut ajaran Islam, salat adalah salah satu ibadah yang harus dilakukan oleh semua orang yang beragama Islam. Salat adalah cara untuk berbicara dan berdialog dengan Allah. Salat juga merupakan cara untuk mengingatkan manusia tentang kewajiban mereka untuk beribadah kepada Allah. Bagi umat Islam, salat juga merupakan tanda keimanan dan dedikasi mereka kepada Allah. Jadi, salat adalah suatu kewajiban bagi umat Islam. Tidak hanya salat, tapi semua ibadah dan amal yang dilakukan oleh orang lain harus berdasarkan aturan Allah dan ajaran agama Islam. Namun meskipun salat adalah suatu kewajiban bagi umat Islam, ada juga amal yang tidak wajib. Amal atau aktivitas yang tidak wajib adalah amal atau aktivitas yang tidak dinilai oleh Allah. Misalnya, menyumbang kepada yayasan amal atau membantu orang lain yang membutuhkan. Jadi, untuk menjawab pertanyaan Apakah Sidi Itu Wajib?’, jawabannya adalah tergantung pada apa yang dimaksud dengan Sidi’. Jika Sidi’ berarti salat, maka jawabannya adalah Ya, salat adalah wajib bagi umat Islam. Namun jika Sidi’ berarti amal atau aktivitas yang tidak wajib, maka jawabannya adalah Tidak, ia tidak wajib. – Sidi adalah perbuatan ibadah yang dikerjakan hanya dalam bulan Ramadhan. Sidi adalah perbuatan ibadah yang dikerjakan hanya dalam bulan Ramadhan. Sidi diperbolehkan di bulan Ramadhan oleh para ulama dan diwajibkan oleh para pengikut agama Islam. Sidi, secara harfiah berarti sesuatu yang menyerupai, dan digunakan untuk merujuk pada ibadah yang terkait dengan bulan Ramadhan. Ibadah ini dapat berupa shalat sunnah, membaca Al-Quran, atau mengerjakan amalan lainnya yang dianggap bermanfaat bagi masyarakat. Dalam konteks agama Islam, Sidi adalah suatu bentuk ibadah yang diwajibkan untuk dilakukan pada bulan Ramadhan. Ibadah ini dapat berupa shalat sunnah, membaca Al-Quran, atau melakukan amalan lainnya yang dianggap bermanfaat bagi umat Islam. Ibadah ini diwajibkan oleh para ulama karena ia merupakan cara untuk memperkuat komitmen umat Islam terhadap tuntunan agama. Dengan demikian, umat Islam dapat meningkatkan kesadaran spiritual dan memahami ajaran agama mereka dengan lebih baik. Selain itu, Sidi juga membantu umat Islam meningkatkan motivasi dalam mengerjakan ibadah. Ibadah seperti membaca Al-Quran atau mengerjakan shalat sunnah dapat membantu mereka untuk lebih mengerti dan menghargai makna ibadah. Karena Sidi diwajibkan oleh para ulama, maka para pengikut agama Islam harus mematuhi perintah tersebut. Oleh karena itu, mereka harus menyediakan waktu dan energi untuk melakukan ibadah tersebut. Kecuali ada alasan yang kuat untuk tidak melakukannya, maka setiap orang yang mengikuti agama Islam harus melakukan Sidi selama bulan Ramadhan. Dengan demikian, mereka akan dapat meningkatkan kesadaran spiritual dan memahami ajaran agama mereka dengan lebih baik. – Kebanyakan ulama berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban dalam Islam. Sidi adalah sebuah tradisi di mana seseorang yang percaya kepada Tuhan memberikan sumbangan kepada orang lain. Ini biasanya dilakukan dalam bentuk uang tunai, barang, atau layanan. Dari masa ke masa, ada banyak ulama yang membahas Sidi, dan banyak di antaranya berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban dalam Islam. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban dalam Islam karena tidak ada dalil yang kuat yang mendukungnya. Beberapa contoh dalil yang diberikan adalah bahwa tidak ada ayat Al-Quran yang secara langsung menyebutkan tentang Sidi. Juga, tidak ada hadis yang menunjukkan kepada kita bahwa kita harus berikan Sidi. Oleh karena itu, berdasarkan dalil-dalil ini, kebanyakan ulama berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban dalam Islam. Namun, meskipun kebanyakan ulama berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban dalam Islam, masih ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa Sidi adalah sebuah kewajiban. Beberapa dari mereka menggunakan dalil-dalil yang berbeda untuk mendukung pendapat mereka. Salah satu contoh dalil yang mereka gunakan adalah bahwa Allah berfirman dalam Al-Quran “Maka berikanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kepadamu azab QS. Al-Baqarah 219. Berdasarkan ayat ini, beberapa ulama berpendapat bahwa kita harus membayar Sidi karena itu merupakan bentuk pengabdian kepada Allah. Selain itu, beberapa ulama juga berpendapat bahwa Sidi adalah sebuah kewajiban dalam Islam karena ia merupakan bagian dari kesetaraan sosial. Setiap orang diharapkan membantu orang lain yang kurang beruntung, dan Sidi adalah salah satu cara untuk melakukannya. Namun, meskipun beberapa ulama berpendapat bahwa Sidi adalah sebuah kewajiban, kebanyakan ulama masih berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban dalam Islam. Mereka menyatakan bahwa Sidi adalah sebuah bentuk kebaikan yang berasal dari jiwa yang suci dan bersih, dan seseorang tidak diharuskan untuk melakukannya. Secara keseluruhan, meskipun ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa Sidi adalah sebuah kewajiban dalam Islam, namun kebanyakan ulama berpendapat bahwa Sidi bukanlah sebuah kewajiban dalam Islam. Mereka menyatakan bahwa Sidi adalah sebuah bentuk kebaikan yang berasal dari jiwa yang suci dan bersih, dan seseorang tidak diharuskan untuk melakukannya. Oleh karena itu, meskipun Sidi adalah sebuah hal yang baik, tetapi hal ini bukanlah sebuah kewajiban. – Ada orang yang berpendapat bahwa Sidi adalah sebuah kewajiban. Sidi adalah istilah Arab yang berarti tepat’, diperintahkan’, atau diharuskan’. Sidi adalah sebuah kewajiban bagi orang-orang yang beriman kepada Tuhan. Sidi berasal dari Al-Quran, yang mengajarkan kepada manusia bagaimana cara menjalankan hidup yang baik dan benar. Sidi dianggap sebagai kewajiban karena melalui Sidi, orang dapat mengikuti perintah yang diberikan oleh Allah untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, orang yang beriman harus secara sadar mematuhi Sidi sebagai bentuk takwa. Ada beberapa orang yang berpendapat bahwa Sidi adalah sebuah kewajiban. Pendapat ini berdasarkan pada fakta bahwa Sidi adalah jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dengan mengikuti Sidi, orang dapat mencapai kesehatan dan kebahagiaan di dunia serta pahala di akhirat. Selain itu, melalui Sidi, orang dapat menjalankan tugas-tugas yang ditetapkan Tuhan. Sebagai contoh, menjaga kesehatan, menjaga hubungan baik dengan orang lain, menjalankan ibadah, dan melaksanakan amal saleh adalah semua tugas yang harus dilakukan oleh orang-orang beriman. Dengan melaksanakan tugas-tugas ini, orang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka dan mencapai keselamatan. Karena Sidi adalah kewajiban, orang yang beriman harus menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Pengikut Sidi harus tulus dan ikhlas dalam melaksanakannya dan menghindari segala bentuk ketidakjujuran dan kejahatan. Mereka harus selalu berusaha untuk menjalankan Sidi dengan benar dan saling mengingatkan satu sama lain jika salah satu dari mereka melanggar Sidi. Kesimpulannya, Sidi adalah kewajiban bagi orang yang beriman. Dengan menjalankan Sidi, orang bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, orang-orang yang beriman harus sungguh-sungguh menjalankan Sidi dan menghindari segala bentuk kejahatan dan ketidakjujuran. – Sidi adalah sebuah perbuatan suci yang dianjurkan dalam agama, tetapi bukan sebuah kewajiban. Sidi adalah sebuah perbuatan suci yang dianjurkan dalam agama, tetapi bukan sebuah kewajiban. Sidi dalam agama Islam berarti berbuat baik dan menyumbang kepada sesama. Ini adalah perbuatan yang dilakukan dengan suka rela dan tujuan untuk membantu sesama dan menyumbang kepada komunitas. Sidi merupakan suatu kebiasaan dalam agama Islam untuk menyumbangkan waktu, uang, dan perhatian kepada sesama. Sidi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui berbagai bentuk, termasuk pemberian sumbangan kepada orang-orang yang membutuhkan dan berpartisipasi dalam kegiatan yang bermanfaat bagi komunitas. Ini bisa berupa membantu orang lain dengan membantu mereka dalam pekerjaan rumah tangga, mengajar anak-anak di sekolah, membantu orang yang sakit, atau membantu orang yang tidak mampu dalam menyelesaikan masalah keuangan. Sidi tidak diwajibkan oleh agama Islam, tetapi ada banyak hadis yang memotivasi untuk melakukan perbuatan baik ini. Salah satu hadis yang paling terkenal adalah “Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan sebaik-baiknya”. Hadis ini mengajarkan bahwa kita harus melakukan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya, termasuk berbuat baik kepada sesama. Karena tidak ada kewajiban untuk berbuat baik, maka orang dapat memutuskan sendiri apakah mereka ingin melakukan sidi atau tidak. Namun, banyak orang yang melakukan perbuatan baik ini karena mereka percaya bahwa melakukan perbuatan baik adalah cara yang baik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Pada akhirnya, perbuatan baik yang dilakukan tanpa rasa paksaan adalah sesuatu yang sangat dihargai. Orang-orang yang melakukan sidi hanya melakukan hal-hal ini karena dorongan mereka sendiri untuk membantu orang lain. Ini adalah hal yang baik untuk dilakukan karena memberikan manfaat kepada orang lain, dan ini juga merupakan cara yang baik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. – Hal ini juga didukung oleh Al-Quran dan Hadits yang menyatakan bahwa berpuasa adalah sebuah kebaikan yang dianjurkan dalam agama. Sidi adalah sebuah istilah yang menggambarkan sebuah bentuk ibadah yang disebut dengan puasa. Istilah ini diperkenalkan oleh Nabi Muhammad SAW dan menjadi bagian penting dalam agama Islam. Istilah ini berasal dari bahasa Arab yang berarti berpuasa’. Puasa adalah sebuah ibadah yang dianjurkan dalam agama Islam. Puasa diwajibkan bagi umat Islam untuk melakukan ibadah yang berguna untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan mereka kepada Allah SWT. Puasa dapat melatih kedisiplinan dan keteguhan dalam menghadapi segala sesuatu yang tidak diinginkan. Apakah puasa itu wajib? Menurut al-Quran, Allah telah memerintahkan manusia untuk berpuasa, karena Allah mengetahui bahwa puasa akan membawa manfaat yang besar bagi mereka. Allah juga telah menetapkan waktu puasa Ramadan sebagai waktu yang tepat untuk memulai dan menyempurnakan ibadah puasa. Hadits juga menyatakan bahwa berpuasa adalah sebuah kebaikan yang dianjurkan dalam agama. Terdapat banyak hadits yang menyebutkan pentingnya ibadah puasa, di antaranya “Berpuasa adalah salah satu bentuk ibadah yang paling utama, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi SAW. Selain itu, puasa juga merupakan bentuk pengorbanan yang dihargai oleh Allah SWT. Hadits juga menyatakan bahwa berpuasa adalah sebuah perintah Allah dan manusia harus menaatinya. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa, maka ia berpuasa karena Allah dan barangsiapa yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan Jadi, berpuasa adalah sebuah kebaikan yang dianjurkan dalam agama. Ini juga diperintahkan oleh Allah SWT dan harus ditaati oleh umat Islam. Berpuasa adalah sebuah ibadah yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan membawa manfaat yang besar bagi kita. – Meskipun Sidi bukanlah sebuah kewajiban, seorang Muslim tetap dianjurkan untuk melaksanakannya. Sidi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kewajiban moral dan spiritual yang diberikan kepada seorang Muslim. Sidi berasal dari kata Arab yang berarti “mematuhi aturan” atau “berkorban untuk”. Dalam konteks Islam, sidi berarti menjalankan ketaatan kepada Allah. Konsep sidi telah dikenal sejak jaman Nabi Muhammad dan telah menjadi bagian penting dari syariat Islam. Sidi dapat diartikan sebagai kesadaran akan hakikat bahwa semua perbuatan yang kita lakukan akan menentukan pahala atau hukuman yang akan kita terima dari Allah. Dengan demikian, sidi adalah komitmen untuk melakukan pekerjaan yang baik karena itu adalah yang terbaik untuk kesejahteraan kita di dunia dan di akhirat. Meskipun sidi bukanlah sebuah kewajiban, seorang Muslim tetap dianjurkan untuk melaksanakannya. Hal ini karena sidi merupakan sebuah bentuk pengabdian kepada Allah dan salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dunia ini. Dengan melakukan sidi, seseorang dapat mengukur sejauh mana ia berusaha untuk tunduk pada perintah Allah. Dengan kata lain, sidi adalah sebuah salah satu bentuk tanggung jawab moral yang diberikan kepada seorang Muslim. Sidi adalah sebuah bentuk pengabdian dan ketaatan yang sangat penting bagi seorang Muslim. Hal ini karena dengan melakukan sidi, seseorang dapat mencapai tujuan hidupnya yaitu mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dengan melakukan sidi, seseorang juga dapat meningkatkan rasa cinta dan ketaatan kepada Allah. Oleh karena itu, meskipun sidi bukanlah sebuah kewajiban, seorang Muslim tetap dianjurkan untuk melaksanakannya. Melalui melaksanakan sidi, seseorang dapat meningkatkan kepatuhan terhadap Allah dan mencapai tujuan hidupnya. Dengan kata lain, sidi merupakan salah satu bentuk tanggung jawab moral yang diberikan kepada seorang Muslim.
MenurutSidi Abdullah bin Shiddiq Al-Ghumari, hadits tersebut palsu, dan sayangnya banyak orang yang tertipu. Beliau menyarankan agar menjauhi segala hadits palsu dan wajib bagi orang yang mengerti untuk menyebarkan ilmu ini. Lagi pula masih ada hadits yang lain, meski hadits dhaif, tapi itu jauh lebih baik dari pada menggunakan hadits palsu.
1. Hal-hal yang perlu diperhatikan GKKK hanya melaksanakan Baptisan Kudus Dewasa dengan cara selam. Dalam ke- adaan khusus, di mana baptisan tidak dapat dilaksanakan dengan cara selam, maka baptisan dapat dilaksanakan dengan cara percik. GKKK menghargai baptisan yang dilakukan gereja lain sesuai ajaran Alkitab, yaitu di- laksanakan dengan air dan di dalam nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. GKKK tidak melakukan Baptisan Anak. Namun apabila ada seseorang yang telah me- nerima Baptisan Anak di gereja lain, dan ingin mengaku percaya di GKKK, ia tidak perlu dibaptis lagi. Orang tersebut cukup dilayani Pengakuan Percaya Sidi, yaitu tin- dakan sadar dari seseorang di hadapan Tuhan dan jemaat-Nya untuk mengakui secara pribadi arti baptisan yang telah diterimanya. Katekisasi wajib diikuti bagi mereka yang ingin menerima Baptisan Kudus Dewasa dan Pengakuan Percaya Sidi. 2. Persyaratan yang harus dipenuhi Baptisan Kudus Dewasa Melengkapi semua prosedur permohonan Baptisan Kudus Dewasa mengisi formulir, menyerahkan Pas Photo 3×4 3 lembar dan Fotocopy Akta Kelahiran/Surat Kenal Lahir 1 lembar. Telah berusia minimal 15 tahun. Telah beribadah secara rutin sebagai simpatisan di GKKK Malang, sekurang-kurangnya selama 6 bulan. Mengikuti dan menyelesaikan katekisasi dengan semua persyratan yang ada didalam- nya. Bagi calon baptisan yang kondisinya tidak memungkinkan cacat atau berusia lanjut, katekisasi dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi. Bagi yang telah menyelesaikan katekisasi di gereja lain, maka harus disertai surat keterangan dari gereja di mana calon baptisan mengikuti katekisasi. Jika gereja ter- sebut mempunyai asas-asas kepercayaan dan pengajaran yang berbeda dengan GKKK atau tidak mengadakan katekisasi, maka ia perlu mengikuti katekisasi terlebih dahulu Mengikuti Percakapan Pastoral yang dilaksanakan oleh Majelis Jemaat. Menyertakan surat penyataan khusus di atas materai untuk kasus-kasus tertentu. Setelah diwartakan dalam Kebaktian Umum selama 2 dua hari Minggu berturut- turut, tidak ada keberatan yang sah dari jemaat. Pengakuan Percaya Sidi Memenuhi semua persyaratan Baptisan Kudus Dewasa no. 2. Menyerahkan bukti Akta Baptis Anak/Dewasa atau surat keterangan lain yang dapat dipertanggungjawabkan. Setelah diwartakan dalam Kebaktian Umum selama 2 dua hari Minggu berturut- turut, tidak ada keberatan yang sah dari jemaat. 3. Silabus Katekisasi diadakan 2x setiap tahunnya Februari s/d Mei dan Agustus s/d Nopember. Apa Itu Katekisasi ? Katekumen memahami apa itu katekisasi dan pentingnya katekisasi, sebelum mereka menerima baptis dewasa atau sidi Pewahyuan Katekumen memahami apa yang dimaksud dengan pewahyuan, bagaimana Allah mewahyukan diri-Nya melalui Wahyu Umum dan Wahyu Khusus agar manusia dapat mengenal Allah Karakteristik Alkitab Katekumen memahami apa dan bagaimana karakteristik Alkitab Allah Tritunggal Katekumen memahami konsep Allah yang sesuai dengan Alkitab yakni Allah Tritunggal Pribadi dan Atribut Allah Tritunggal Bapa Katekumen memahami dan mengenal le-bih dalam tentang Pribadi pertama Allah Tritunggal Bapa Pribadi dan Atribut Allah Tritunggal Putra Katekumen memahami dan mengenal lebih dalam tentang Pribadi kedua Allah Tritunggal Yesus Kristus Konsep Dosa dan Keselamatan Di Dalam Kristus Katekumen memahami konsep dosa dan keselamatan dalam Alkitab yakni melalui Yesus Kristus, bukan dengan perbuatan baik Pribadi dan Atribut Allah Tritunggal Roh Kudus Katekumen memahami dan mengenal lebih dalam tentang Pribadi ketiga Allah Tritunggal Roh Kudus Ekklesiologi dan Pengenalan Tentang GKKK Katekumen memahami konsep gereja dalam Alkitab dan mengenal Sejarah serta Tata Gereja GKKK Sakramen Baptisan dan Perjamuan Kudus Katekumen memahami konsep Sakramen dalam Alkitab Baptisan dan Perjamuan Kudus Retreat Calon Peserta Baptis dan Sidi Katekumen dipersiapkan menjadi murid Kristus dan menjadi anggota keluarga besar GKKK Malang Form Baptisan
GiroWajib Minimum Sekunder. GWM sekunder adalah cadangan minimum (rupiah) yang wajib dipelihara oleh bank berupa surat berharga, seperti Sertifikat Bank Indonesia, Sertifikat Deposito Bank Indonesia, dan Surat Berharga Negara). Besaran GWM sekunder ditetapkan dalam rasio dana pihak ketiga. Kebijakan GWM sekunder ditujukan untuk
Pandangan Alkitab Konfirmasi atau Sidi—Apakah Itu Tuntutan Kristen? ”Konfirmasi atau sidi adalah sakramen yang memberikan kesempurnaan kehidupan Kristen yang sepenuhnya kepada orang kristiani yang sudah dibaptis, menjadikan dia rohaniwan yang dewasa, seorang serdadu, dan saksi Kristus.”—The Catholic Encyclopedia for School and Home. KEBANYAKAN orang Protestan menolak gagasan bahwa konfirmasi adalah sebuah sakramen. Namun, ahli teolog abad ke-13 Thomas Aquinas menulis bahwa ”konfirmasi adalah penyempurnaan terakhir dari sakramen pembaptisan”. Yang mana pun artinya, pertanyaan-pertanyaan tetap timbul, Apakah orang-orang kristiani yang mula-mula mempraktikkan konfirmasi? Apakah upacara tersebut merupakan tuntutan Kristen dewasa ini? ”Dalam Injil sama sekali tidak ditunjukkan bahwa Yesus menegakkan Sakramen Konfirmasi,” demikian diakui New Catholis Encyclopedia. Kalau begitu mengapa guru-guru agama mengajukan gagasan bahwa setelah baptisan, upacara kedua, yang mungkin berupa pengurapan dengan minyak dan pemberkatan, diperlukan untuk membuat seseorang menjadi anggota gereja dalam arti yang lebih penuh? Bagaimana Asal Mula Konfirmasi? Pembaptisan bayi merupakan salah satu faktor yang menentukan sehingga sakramen lain diperlukan. ”Karena menyadari problem-problem yang ditimbulkan oleh pembaptisan bayi,” kata buku Christianity, ”gereja-gereja . . . mengingatkan kepada mereka yang telah dibaptis mengenai arti pembaptisan melalui ’konfirmasi’ di kemudian hari”. Apakah konfirmasi benar-benar mengingatkan mereka akan arti pembaptisan, atau apakah hal itu justru mengaburkan kebenaran mengenai pembaptisan? Kenyataannya adalah bahwa pembaptisan bayi tidak didukung dalam Alkitab. Air yang dipercikkan ke atas bayi, misalnya, tidak membebaskan bayi itu dari dosa asal; hanya iman dalam tebusan Yesus Kristus yang dapat. Yohanes 316, 36; 1 Yohanes 17 Pembaptisan air adalah tanda luar bahwa orang yang dibaptis itu telah membuat pembaktian yang penuh melalui Yesus untuk melakukan kehendak Allah Yehuwa. Pembaptisan air adalah untuk murid—’orang percaya’—bukan untuk bayi.—Matius 2819, 20; Kisah 812. ”Di mana pembaptisan berakhir dan di mana Konfirmasi mulai?” demikian pertanyaan dalam New Catholic Encyclopedia. Jawabnya, ”Sebaiknya kita tidak membedakannya dengan terlalu teliti, karena kita membicarakan satu upacara dalam Gereja yang mula-mula.” Ya, pada abad pertama, ”satu upacara” yang menandakan keanggotaan dalam sidang Kristen adalah pembaptisan.—Kisah 241, 42. Apakah upacara konfirmasi, dengan penumpangan tangan [di atas kepala], diperlukan agar seseorang dapat memperoleh roh kudus? Tidak. Dalam sidang Kristen yang mula-mula, penumpangan tangan setelah pembaptisan biasanya menandakan penugasan khusus atau pemberian karunia-karunia roh yang ajaib. Karunia-karunia ini sudah berakhir dengan meninggalnya para rasul. 1 Korintus 131-31 Korintus 131-3 Jadi, gagasan bahwa konfirmasi meneruskan penumpangan tangan rasuli dan, sebagaimana dikatakan Basics of the Faith A Catholic Catechism, adalah sebuah ”sakramen yang mengubah seseorang dengan sepenuhnya sehingga hanya dapat diterima satu kali”, tidak dapat dipertanggungjawabkan. Rasul Paulus telah memberi peringatan mengenai penyimpangan dari kebenaran dasar Alkitab, ”Akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, melainkan menggemari ajaran baru . . . lalu, memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.” 2 Timotius 43, 4, The Jerusalem Bible Namun, mereka yang percaya kepada upacara konfirmasi menyebutkan dua contoh dalam Alkitab sebagai bukti. Dasar Alkitab? Catatan yang terdapat di Kisah 814-17 sering digunakan sebagai dasar dari konfirmasi. Namun, penumpangan tangan untuk menerima roh kudus di sini adalah suatu kejadian yang unik. Mengapa demikian? Orang-orang Samaria adalah proselit non-Yahudi. Jadi, mereka adalah orang-orang bukan Israel yang pertama-tama bergabung dengan sidang Kristen. Pada waktu Filipus memberitakan Injil di Samaria, banyak orang Samaria ”memberi diri dibaptis, baik laki-laki maupun perempuan”, tetapi mereka tidak segera menerima roh kudus. Kisah 812 Mengapa? Ingat, kepada Petrus-lah Yesus mempercayakan ”kunci-kunci Kerajaan Sorga”—hak istimewa pertama untuk membuka kesempatan untuk masuk ke dalam ”Kerajaan Sorga” bagi berbagai kelompok orang-orang percaya. Matius 1619, NW Maka, baru setelah Petrus dan Yohanes datang ke Samaria dan menumpangkan tangan atas murid-murid non-Yahudi yang pertama, roh kudus dicurahkan atas mereka sebagai tanda keanggotaan mereka kelak di ”Kerajaan Sorga”. Ada yang melihat bukti dalam Kisah 191-6 bahwa orang-orang kristiani yang mula-mula mempunyai upacara lain setelah pembaptisan. Namun, dalam hal ini alasan untuk menunda pencurahan roh kudus kepada beberapa murid di kota Efesus adalah bahwa orang-orang yang baru percaya ini dibaptis menurut ”baptisan Yohanes,” yang sudah tidak berlaku lagi. Lihat juga Kisah 1824-26. Ketika hal ini dijelaskan kepada mereka, dengan segera mereka ”memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus”. Dan pada waktu itu, rasul Paulus ”menumpangkan tangan di atas mereka” agar mereka dapat menerima karunia-karunia ajaib roh kudus selain diangkat menjadi anak-anak rohani Allah.—Roma 815, 16. Dari kejadian-kejadian ini, Dictionary of Theology mengatakan, ”Tidak ada kelanjutan yang jelas dari kejadian-kejadian ini, dan, sekalipun jika memang dapat dijadikan contoh, halnya diragukan apakah itu harus dianggap sebagai standar bagi pelantikan Kristen seperti halnya dengan pembaptisan air. . . . Kitab Kisah Para Rasul mencatat banyak upacara pembaptisan air yang tidak diikuti dengan penumpangan tangan jadi sebenarnya kejadian-kejadian ini [yang dicatat dalam Kisah 8 dan 19] merupakan perkecualian.” Ya, ini merupakan tindakan-tindakan khusus dengan maksud untuk dapat mengatasi keadaan-keadaan yang lain daripada yang biasa. ”Upacara yang disebut ’konfirmasi’,” New Dictionary of Theology memberi kesimpulan, ”telah menjadi suatu ’upacara mencari sebuah pengajaran teologi’”. Sebenarnya, hal itu adalah upacara yang tidak berdasarkan Alkitab, hasil dari pengajaran yang salah, dan sudah pasti bukan tuntutan bagi orang-orang kristiani.
oUPOK7. aa824d1kfq.pages.dev/558aa824d1kfq.pages.dev/218aa824d1kfq.pages.dev/675aa824d1kfq.pages.dev/628aa824d1kfq.pages.dev/892aa824d1kfq.pages.dev/636aa824d1kfq.pages.dev/450aa824d1kfq.pages.dev/13
apakah sidi itu wajib