Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Hari itu serombongan anak Taman Kanak Kanak TK bersama seorang guru baru turun dari sebuah bus. Sang Guru mengajak beberapa murid-muridnya untuk berjalan-jalan di hutan terdekat untuk menjelaskan pada mereka tentang kehidupan pohon."Pohon sebagaimana kita hidup," jelas guru, ia berhenti di dekat sebuah pohon pinus besar. "Pohon makan, bekerja, bernapas dan tidur. Pohon dapat merasakan dan bahkan berbicara, tetapi dengan cara dia sendiri."Anak-anak dengan penuh perhatian mendengarkan cerita guru, kecuali tiga anak laki-laki. Bagi mereka cerita semacam ini sama sekali tidak menarik. Perlahan-lahan mereka menjauh, dan berusaha untuk tidak terlihat. Mereka berhasil menyelinap ke ke lebatnya hutan. "Tidak mungkin, Bu Gru pasti menagada-ada! Saya tidak akan pernah percaya bahwa pohon-pohon itu hidup dan bisa merasa," kata anak lelaki pertama mencela. Dengan kata-kata ini, dia seakan-akan berusaha untuk membuktikan pendapatnya, ia melompat dan menangkap dahan pohon tanjung. Dia mulai berayun di dahan, maju dan mundur sampai putus cabang dengan suara patahan yang keras."Tentu saja itu bohong," tawa anak laki-laki kedua . "Pohon tidak bisa bicara! Lihat, pohon tanjung tidak mengatakan apa-apa saat kamu memutuskan cabang itu sekarang. Sekarang aku akan mengukir sesuatu dengan sebuah pisau di kulit kayu itu. Mungkin pohon ini akan menulis sesuatu sebagai jawaban?" ia terus tertawa."Dan aku tidak percaya bahwa pohon dapat bernapas. Mereka tidak memiliki paru-paru" tambah anak ketiga, mendukung teman-temannya. "Di sini,kemarilah lihat sebentar Pohon Beringin besar yang tumbuh di sana," ia mulai berlari mengelilingi pohon Beringin, menendang itu seperti yang mereka lakukan begitu sambil bernyanyi riang "Hei, kau pohon Beringin tua - beritahu kami namamu."Tiba-tiba semua anak laki-laki merasa seolah-olah ada sesuatu telah menangkap mereka dan mengangkat mereka tinggi-tingi di atas tanah."Oh, apa yang terjadi?" - Teriak anak-anak ketakutan. Pohon Beringin menjawab, dengan cabang-cabangnya berdesir dan suara menggelegar yang membuat anak-anak gemetar ketakutan. 1 2 3 4 Lihat Dongeng SelengkapnyaPembahasan Interaksi antara benalu dan pohon mangga yaitu benalu mengambil air dan mineral dari pohon mangga, sedangkan pohon mangga akan semakin mati karena kekurangan air dan nutrien. Jenis interaksi antarmakhluk hidup yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya ini disebut simbiosis parasitisme. Ada beragam cerita dongeng tentang tumbuhan yang menarik tuk kamu baca. Salah satunya adalah dongeng Akar dan Anak Daun yang kisahnya telah kami paparkan di artikel ini. Yuk, baca langsung saja! Selain menonton film dan bermain game, membaca dongeng juga bisa kamu jadikan pilihan kegiatan untuk mengisi waktu luang. Bila ingin membaca dongeng anak tentang tumbuhan, kamu bisa membaca cerita Akar dan singkat, dongeng ini mengisahkan tentang sebuah pohon yang teramat rindang di padang rumput. Lalu, ada seorang Daun yang mengatakan bahwa pohon tersebut sangatlah rindang berkat konflik seperti apakah yang terjadi di artikel ini? Daripada penasaran, mending simak langsung saja dongeng anak tentang Akar dan Daun beserta ulasan seputar unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya. Selamat membaca! Pada zaman dahulu, di sebuah padang rumput yang sangat panas, ada sebuah pohon yang tumbuh rindang dan sangat cantik. Pohon itu mempunyai dedaunan yang lebat dan berwarna hijau muda. Tak ayal bila banyak hewan yang sering berteduh di bawah pohon tersebut. Burung-burung pun merasa senang dan berkicau merdu saat bertengger di dahan pohon tersebut. “Wah, berkat pohon ini, aku bisa merasakan kesejukan di padang rumput yang sangat gersang ini. Dedaanannya sangatlah rimbun, membuat angin berhembus sejuk,” ucap salah satu burung yang sedang berteduh. Mendengar ucapan itu, seorang Daun pun menyombongkan dirinya, “Tentu saja pohon ini rindang. Lihatlah aku dan saudara-saudaraku, hijau dan rimbun. Tanpa kami, pohon ini tidak ada apa-apanya.” “Pohon ini akan kering dan gersang bila tak ada kami. Karena itulah, kamu harus berterima kasih padaku karena telah melindungi pohon ini sehingga jadi hijau dan menyejukkan,” ucap Daun pada burung. “Umm, benar katamu, Daun. Tapi, kamu tak seharusnya menyombongkan diri. Aku yakin tanpa Akar, dirimu tak akan bisa sehijau ini,” ucap burung sambil terbang meninggalkan pohon itu. “Akar? Akar kan di dalam tanah. Mana mungkin ia berperan penting dalam menghijaukan pohon ini. Dasar burung tak tak tahu terima kasih,” ucap Daun. Usaha dan Kerja Keras yang Tak Nampak “Apa yang burung tadi katakan benar, Daun muda. Aku tahu, kamu ada di atas dan menyejukkan pohon, tapi tanpaku, kamu tak akan bisa bertahan segar. Kau tak boleh sombong,” kata suara di dalam tanah. “Suara siapa itu?” tanya Daun merasa bingung. “Ini aku, Akar. Kamu tak akan bisa melihatku, karena aku berada di dalam tanah,” jawab suara itu. “Hmm, apa yang kau lakukan di dalam tanah? Dan apa maksudmu kalau aku tak bisa hidup tanpa kamu?” tanya Daun penasaran. “Aku berada di bawah tanah untuk mencari air untukmu. Sehingga, kamu bisa tetap segar dan sejuk. Kami memang tinggal di dalam tanah yang kotor, tapi saat kami sangatlah kuat. Saat musim berganti, kami tetap bertahan. Kalau aku tak bertahan, pohon ini akan mati, begitu pun dengan dirimu,” ucap Akar menasehati Daun. Daun itu terdiam mendengar nasihat dari Akar. Ia sadar selama ini Akar telah berjasa banyak untuk pohon ini dan dirinya. “Akar, aku minta maaf karena telah sombong. Aku tak tahu bila tanpamu, pohon ini dan aku akan mati,” ucap Daun menyesal. “Tak mengapa, Daun. Aku hanya ingin kau tidak sombong,” ucap Akar. Mereka pun bersahabat dengan baik dan kerap mengobrol. Pohon itu pun semakin hari semakin tampak rimbun dan rindang sehingga banyak hewan-hewan yang berdatangan. Baca juga Kisah tentang Si Kelingking Asal Jambi dan Ulasan Lengkapnya, Pelajaran untuk Tidak Meremehkan Penampilan Fisik Seseorang Unsur Intrinsik Usai membaca dongeng anak Akar dan Daun yang sombong. Mungkin, kamu jadi penasaran dengan unsur intrinsiknya. Nah, daripada penasaran, mending kamu langsung saja baca ulasan singkatnya di artikel ini; 1. Tema Tema atau inti cerita dongeng anak tentang Akar dan Daun adalah tentang kesombongan. Daun merasa dirinyalah yang paling berjasa dalam membuat pohon menjadi rimbun dan rindang. Padahal, rimbunnya pohon dan hijaunya daun tak lepas dari kerja keras akar yang mencari air untuk mereka bertahan hidup. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada dua tokoh utama dalam dongeng ini, yaitu Akar dan Daun. Tokoh antagonisnya adalah Daun. Ia memiliki sifat yang sombong. Sementara akar memiliki sifat bijaksana dan pemaaf. Meski selama ini berjasa besar dalam membuat pohon menjadi rindang, ia tak pernah menyombongkan dirinya. Ia juga dengan mudah memaafkan Daun yang selama ini sombong dan tak menganggapnya ada. 3. Latar Ada dua latar tempat yang digunakan cerita dongeng ini, yaitu di sebuah padang rumput dan di dalam tanah tempat akar berada. Sementara setting waktu yang digunakan adalah pagi dan siang. 4. Alur Cerita dongeng anak Akar dan Daun memiliki alur maju atau progresif. Cerita berawal dari seekor burung yang merasa senang saat sedang bertengger di sebuah pohon rimbun. Lalu, Daun yang sombong dari pohon itu berkata bila dirinyalah yang membuat pohon tersebut tampak rindang dan menyejukkan. Kesal dengan kesombongan Daun, Burung pun mengatakan kalau pohon yang rindang itu karena kerja keras dari akar. Setelah burung pergi, dari dalam tanah, Akar berkata bila perkataan burung tersebut memang benar. Selama ini, dirinyalah yang berjuang mencari air agar pohon dapat tumbuh dengan baik. Tanpa air yang ia dapatkan, bisa saja pohon dan daun tak bisa hidup dengan segar. Daun lalu meyadari tak seharusnya ia bersikap sombong. Kehebatannya tak sebanding dengan perjuangan akar yang selama ini mencari air agar pohon tetap hidup. Lalu, ia pun meminta maaf dan berterima kasih pada akar karena selama ini ia telah bekerja keras. 5. Pesan Moral Apa sajakah pesan moral yang terkandung dalam cerita dongeng anak Daun dan Akar ini? Pertama, jangan jadi orang yang sombong. Ingatlah pepatah di atas langit masih ada langit. Ketika kamu merasa hebat atau pandai, masih ada orang lain yang lebih hebat atau pandai darimu. Lalu, jadilah seperti Akar yang bijak dan tak banyak bicara. Meski selama ini bekerja keras untuk mendapatkan air, ia tak pernah berkoar-koar dan menyombongkan dirinya. Tak hanya bijak, Akar juga pemaaf. Ia dengan mudah memaafkan Daun yang selama ini tak menganggap usaha dan kerja kerasanya. Selain unsur instrinsik, cerita dongeng ini juga memiliki unsur ekstrinsik. Di antara unsur ekstrinsiknya adalah nilai ketuhanan, sosial, budaya, dan moral dari lingkungan di sekitar. Baca juga Cerita Rakyat Asal-Usul Kota Pandeglang dan Ulasan Lengkapnya, Sebuah Pelajaran Untuk Tidak Serakah dan Iri Hati Fakta Menarik Nah, sebelum mengakhiri artikel ini, ada baiknya kamu membaca fakta menariknya dulu. Apa sajakah itu? Berikut ulasan singkatnya; 1. Diadaptasi Dari Dongeng Aesop Potret Aesop Sumber Wikimedia Commons Mungkin kamu masih belum familier dengan Aesop. Ia adalah pengarang cerita yang berasal dari Yunani. Ceritanya terkenal penuh dengan pelajaran tentang kehidupan, seperti contohnya dongeng anak Akar dan Daun ini. Dongeng lain yang tak kalah populer karya Aesop adalah Kelinci dan Kura-Kura, Serigala dan Domba Muda, Singa dan Tikus, serta masih banyak lagi. Kamu tentu sudah familier dengan cerita-cerita tersebut, kan? 2. Banyak Tayangan Animasi yang Mengangkat Kisah Ini Karena memiliki kisah yang menarik dan sarat akan pesan moral, banyak video animasi yang mengangkat dongeng ini. Kamu bisa melihatnya langsung di youtube. Dengan animasi yang menarik, pasti akan sangat disukai oleh anak-anak. Baca juga Legenda Rangkayo Hitam dan Ulasan Lengkapnya, Kisah Seorang Raja yang Memperjuangkan Kesejahteraan Kerajaan Jambi Bagikan Dongeng Anak Akar dan Daun ke Teman-Temanmu Demikianlah cerita dongeng anak Akar dan Daun beserta ulasan lengkap seputar unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya. Kamu suka dengan dongeng ini? Kalau suka, bagikan dongeng ini ke teman-temanmu, ya! Teruntuk yang pengen baca dongeng lainnya, langsung saja kepoin kanal Ruang Pena. Kalau pengen baca cerita rakyat Nusantara, tenang saja, kami punya beberapa kisahnya. Beberapa di antaranya adalah legenda Putri Pinang Masak dari Jambi, cerita rakyat Hantuen dari Kalimantan Tengah, kisah Tambun Bungai dari Dayak, dan masih banyak lagi. Selamat membaca! PenulisRinta NarizaRinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru. Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.
› Nusantara›Imajinasi Anak akan Kebaikan... Dongeng dan permainan di Kampung Dongeng Intan Kalsel membawa anak-anak masuk ke dalam dunianya untuk belajar nilai-nilai kebaikan agar segala hal yang baik tertanam sejak dini. KOMPAS/JUMARTO YULIANUSAnak-anak bersama orangtuanya menyimak dongeng yang dibawakan oleh Bunda Enik dalam kegiatan Kado Pekan Ceria di Kampung Dongeng Intan Kalsel di Sungai Paring, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu 19/2/2023. Kampung Dongeng di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, menjadi tempat wisata imajinasi anak. Lewat dongeng dan permainan, anak-anak dibawa masuk ke dalam dunianya untuk belajar nilai-nilai kebaikan agar segala hal yang baik tertanam sejak Mintarsih 50, yang akrab disapa Bunda Enik, maju dengan membawa boneka dan duduk di hadapan anak-anak, Minggu 19/2/2023. Ketua Kampung Dongeng Intan Kalsel itu menyapa anak-anak yang berkumpul di ”base camp” dalam rangka mengikuti kegiatan Kado Pekan Ceria di Jalan Kampung Baru, Sungai Paring, Martapura, Kabupaten Banjar. Bunda Enik meminta anak-anak duduk manis dan tenang karena ia dan Nunung Salma, boneka yang dibawanya, akan mendongeng. Judul dongengnya adalah Pohon Kebaikan. Kisahnya tentang pohon ara yang sombong dan pohon mangga yang baik di hutan ibu kota negara IKN ara tidak sudi ketika ratu lebah dan kawanannya mau bersarang. Akhirnya, ratu lebah dan kawanannya bersarang di pohon mangga. Beberapa waktu kemudian, pohon ara justru meminta pertolongan ratu lebah karena ia mau ditebang. Karena kasihan dan tidak ingin hutan IKN gundul, ratu lebah pun mengusir para penebang yang sudah siap menebang pohon mendongeng, Bunda Enik bertanya, ”Apa judul dongeng tadi?” Seorang anak perempuan maju dan menjawab dengan tepat. ”Pohon kebaikan,” jawabnya. Setelah itu, maju lagi seorang anak perempuan untuk menjawab pertanyaan, pohon apa saja yang ada di hutan. ”Pohon ara dan pohon mangga,” jawabnya dengan suara YULIANUSSeorang anak maju untuk menjawab pertanyaan setelah mendengar dongeng yang dibawakan Bunda Enik dalam kegiatan Kado Pekan Ceria di Kampung Dongeng Intan Kalsel di Sungai Paring, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu 19/2/2023.”Pohon ara itu sombong. Boleh enggak kita sombong?” tanya Bunda Enik. ”Enggak boleh,” jawab anak-anak serempak. ”Kenapa enggak boleh sombong?” tanya Bunda Enik lagi. ”Itu tidak baik,” jawab mendengarkan dongeng, anak-anak dihibur dengan pertunjukan sulap. Anak-anak bersama orangtuanya kemudian diajak untuk melakukan gerakan pencairan suasana ice breaking, meniup balon, dan bermain menuturkan, Kado Pekan Ceria merupakan kegiatan rutin Kampung Dongeng Intan Kalsel sejak 2014. Kegiatan ini diadakan sebulan sekali di ”base camp” Kampung Dongeng, terbuka untuk semua anak, dan tidak dipungut biaya atau gratis. Namun, kegiatan tersebut sempat ditiadakan selama dua tahun karena situasi pandemi Covid-19.”Kegiatan Kado Pekan Ceria diaktifkan kembali setelah pandemi mereda. Tema kegiatan bulan Februari ini adalah lingkungan,” juga Pekan Ceria di Kampung Dongeng Intan KalselDi samping mendengarkan dongeng tentang pohon kebaikan, dalam kegiatan kali ini, anak-anak juga diajak bermain balon bersama orangtuanya. Menurut Enik, permainan balon itu tidak hanya untuk seru-seruan, tetapi juga untuk menghilangkan trauma anak ataupun orangtuanya pada bunyi letusan atau ledakan balon.”Kampung Dongeng ini adalah tempat anak-anak untuk bermain. Orangtuanya juga diajak bermain supaya anak-anak punya kesan baik dan mendalam bahwa ayah dan bundanya sangat peduli dengan mereka,” YULIANUSAnak-anak bersama orangtuanya bermain balon dalam kegiatan Kado Pekan Ceria di Kampung Dongeng Intan Kalsel di Sungai Paring, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu 19/2/2023.Sahabat anakEnik menjelaskan, Kampung Dongeng Intan Kalsel merupakan kampung dongeng pertama di Kalsel, yang diresmikan pada 4 Mei 2014. Kampung Dongeng ini merupakan salah satu dari puluhan cabang Kampung Dongeng di Indonesia, yang digagas oleh Kak Awam atau Moch Awam Prakoso.”Setahun sebelum Kampung Dongeng Intan Kalsel diresmikan oleh Kak Awam, kegiatan kami sudah berjalan. Setidaknya, kami bergerak duluan. Jadi, tidak mesti dibuka dulu baru bergerak,” Dongeng Intan Kalsel memiliki visi menjadi sahabat yang secara terus-menerus memberikan bimbingan kepada anak-anak sesuai dengan tahapan usianya agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara alamiah dan optimal dengan segala potensi yang dimiliki setiap YULIANUSAnak-anak menonton pertunjukan sulap dalam kegiatan Kado Pekan Ceria di Kampung Dongeng Intan Kalsel di Sungai Paring, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu 19/2/2023. Menurut Enik, ada 15 sukarelawan dongeng yang bersama-sama dengannya siap mendongeng untuk anak-anak. Mereka rutin melaksanakan dongeng pekan ceria, dongeng keliling kampung, dan dongeng peduli. Dalam suatu kegiatan, tentu tidak semuanya mendongeng, tetapi ada yang bermain sulap, memimpin gerakan ice breaking dan permainan, serta mendokumentasikan kegiatan.”Dalam kegiatan Kado Pekan Ceria, kami juga selalu memberi kesempatan kepada anak-anak untuk tampil. Tidak hanya untuk mendongeng, tetapi terbuka lebar kesempatan kepada anak-anak untuk tampil dengan kreasi apa saja,” juga Melestarikan Dongeng, Merawat PeradabanKegiatan Kado Pekan Ceria di Kampung Dongeng Intan Kalsel berlangsung selama 2 jam, dari pukul sampai Wita. Karena itu, Bunda Enik berharap dongeng dan permainan yang dilakukan dalam pertemuan singkat di Kampung Dongeng bisa dilanjutkan di rumah masing-masing.”Setidaknya, saya mengajak semua orangtua untuk kembali mendongeng kepada anaknya dan bermain bersama anaknya di rumah masing-masing. Luangkan waktu untuk itu meskipun ada kesibukan,” YULIANUSAnak-anak bersama orangtuanya bermain balon dalam kegiatan Kado Pekan Ceria di Kampung Dongeng Intan Kalsel di Sungai Paring, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Minggu 19/2/2023. Sangat positifMenurut Hendra 35, warga Sungai Sipai, Martapura, kegiatan di Kampung Dongeng Intan Kalsel sangat positif untuk pendidikan anak. Karena itu, ia bersama istri hampir tidak pernah absen membawa kedua anaknya, laki-laki berusia 4 tahun dan perempuan berusia 7 tahun, untuk mengikuti kegiatan Kado Pekan Ceria.”Anak kami yang pertama, dari usia 2 tahun, sudah ikut kegiatan di Kampung Dongeng. Di sini anak bisa bermain dan belajar bersosialisasi dengan anak-anak lain. Untuk sementara, mereka bisa lepas dari gawai gadget,” mengikuti kegiatan Kado Pekan Ceria, Hendra dan istri baru mengajak kedua anaknya jalan-jalan atau rekreasi keluarga. Mereka bisa pergi ke mal, tempat wisata, ataupun kondangan. ”Sebagai orang tua, kami merasa tempat bermain anak, seperti Kampung Dongeng, sangat dibutuhkan di masa kini,” juga Dongeng, Tradisi Lisan Sejuta ManfaatHM Makky 35, warga Landasan Ulin, Banjarbaru juga rutin membawa dua anaknya, perempuan berusia 3 tahun dan laki-laki berusia 6 tahun, mengikuti kegiatan Kado Pekan Ceria di Kampung Dongeng Intan Kalsel. Dari rumah ke lokasi kegiatan, mereka harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit.”Kegiatan di Kampung Dongeng sangat bagus untuk melatih motorik kasar dan motorik halus pada anak. Sejak dini, anak-anak juga belajar bersosialisasi, tampil percaya diri, dan dilatih untuk mandiri,” kata guru Sekolah Dasar SD Islam Creative Banjarbaru dongeng, anak-anak pun mendapatkan keceriaan bersama keluarga mereka. EditorSIWI YUNITA CAHYANINGRUM
Dibawahinia dalah cara budidaya tanaman mangga yang sudah terbukti berhasil: 1. Iklim. Pada umumnya ada pola pikir atau mindset bagi sebagian orang bahwa kalau ingin bercocok tanam dengan hasil yang bagus, sebaiknya dilakukan di dataran tinggi karena jauh lebih potensial. Di samping itu, karena tanah pegunungan dianggap jauh lebih subur secara