TRIBUNJATENG.COM - Berikut dongeng pertempuran Hiu dan Buaya, legenda Kota Surabaya dilansir dari bobo.grid.id. Dahulu, dilautan luas sering terjadi perkelahian antara Ikan Hiu Sura dengan Buaya Baya. Mereka berkelahi hanya karena berebut mangsa. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama tangkas, sama-sama cerdik, sama-sama ganas, dan sama-sama rakus.
Tokoh cerita di atas adalah . A. Gajah, Kerbau, Buaya B. Gajah, Buaya, Kerbau C. Gajah, Kerbau, Raksasa D. Gajah, Raksasa, Buaya. 54. Dari barat terlihat hujan anak panah menyerbu pasukan Sir Thomas. Banyaknya anak panah menutupi matahari oranye yang mulai tenggelam, hingga kegelapan datang lebih cepat. Latar waktu kutipan cerita tersebut
Sejarah Lubang Buaya menceritakan tentang tempat ditemukannya jenazah 7 Pahlawan Revolusi pada masa pemberontakan G30S. Pemberontakan ini terjadi pada 30 September 1965. ADVERTISEMENT. Lubang buaya sendiri mempunyai sejarah sekaligus asal-usul yang menarik. Lebih jelasnya, simak ulasan berikut! Cerita Fabel - Buaya yang serakah. Disebuah pinggiran sungai ada seekor buaya yang kelaparan, sudah 3 hari buaya itu belum makan, dia terasa lapar sekali, mau tidak mau hari ini ia harus makan, sebab kalau tidak bisa-bisa dia akan mati kelaparan, lalu buaya itu segera masuk dalam sungai, "byurr," ia berenang berlahan-lahan menyusuri sungai itu Dan jangan memandang hina pada yang rendah kerana pucuk yang tinggi menjulang awan ditanggung pangkal yang terbenam di tanah. Yang adakalanya dari yang rendah lahir fikiran- fikiran yang bermutu nilaian. Menurut cerita orang yang terdahulu, kerana pujian seekor kerbau tertipu dengan seekor buaya. Mujurlah seekor kancil yang bijak memberi Mitos Cura Bhaya, Sejarah Panjang Cerita Nama Surabaya Sejak Abad XIV. Nama Surabaya lahir dari mitos perkelahian Sura (Ikan hiu) dan Baya atau buaya dalam bahasa Indonesia. Sejarah panjang lahirnya mitos itu, tak lepas dari gejala alam yang terjadi di ibukota Jawa Timur itu. Soenarto Timoer mengupas dalam bukunya "Menjelajahi Zaman Bahari sebutan dan perkataan itu telah digunakan secara turun-temurun dan tidak diubah. Kebanyakan tok dalang pada zaman 60an terdiri dari golongan buta huruf dan tidak dapat membezakan antara perkataan yang betul dan tidak betul (Mohamad Azim, 2011). Dalam skop pembuatan wayang kulit pula, dalang adalah orang