AdabTerhadap Guru. atau orangtua murid dengan guru anaknya yang berakhir ricuh bahkan sampai harus dibawa ke meja hijau. maka hargailah hak guru tersebut. “Bukanlah termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati orang yang tua, tidak menyayangi yang muda, dan tidak mengerti hak ulama kami.” (HR. Al-Bazzar 2718, Ahmad
Adab Orang Tua Kepada Guru Anaknya Oleh Annisa Sabikha Santri kelas 3Pi SMP IT Al Amri Sebuah video yang berdurasi 6 menit 3 detik, bisa membuat orang- orang terkejut, terkejut akan hal yang dilakukan oleh seorang wali murid kepada mantan ustad anaknya. Dibalik kata mantan inilah hal tersebut terjadi, dimana seorang santri di sebuah pondok di daerah Pekanbaru Riau, dikeluarkan lantaran melakukan pelanggaran Pondok. Dan pada tanggal 4 Maret 2020 datanglah bapaknya dengan membawa pengacara untuk menemui Ustadz anaknya hingga Ustadz tersebut tertunduk. Berita yang dikabarkan di ini di komen oleh berbagai netizen dengan berbagai coment yang menunjukkan ketidak sukaan netizen terhadap tindakan Wali santri tersebut. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa saat ini adalah saat di mana orang tua bisa mengatur gerak-gerik’ sekolah anaknya dengan sesuka hatinya. orang tua bisa menghardik- hinakan’ staf sekolah atas tindakan keputusan sekolah terhadap anaknya. Singkatnya pada saat ini terlihat Bagaimana seakan-akan ilmu lebih mulia daripada adab. Telah banyak dan sangat mudah untuk kita bertemu dengan berbagai tulisan, opini, artikel, ceramah, vlog dan media media yang lain tentang adab seorang murid kepada gurunya, telah banyak orang tua yang senantiasa menanamkan pentingnya adab kepada anaknya, namun tak jarang pula orang tua yang lupa-lalai bahkan tidak tahu bahwa mereka harus beradab kepada guru anaknya. Maka wali murid harus sadar bahwa mereka telah menitipkan anaknya kepada guru anaknya dan telah mempercayai guru tersebut dan barulah jika terjadi suatu kecekcokkan’ tabayyun lah yang akan berperan di situasi tersebut bukan emosional yang bisa merusak harga diri mulai dari ayahnya, ibunya, gurunya, sekolahnya, hingga harga diri murid itu sendiri. Dalam sebuah kisah diceritakan ada seorang lelaki yang ingin memftnah syekh Abdul Qadir al jallini, kemudian dia mengintip rumah Syekh Abdul Qodir melalui sebuah lubang, dan ketika itu syekh Abdul Qadir sedang makan bersama muridnya, nah saat itu Syekh Abdul Qodir makan ayam yang merupakan makanan kesukaannya. Syekh Abdul Qodir ketika makan selalu memakan separuh dan menyisihkan separuhnya untuk muridnya. Kemudian timbullah rencana licik dari lelaki tersebut, dia mendatangi Bapak murid itu dan bertanya, “bapak punya anak namanya ini” kemudian bapak itu berkata “ya ada”, kemudian dia mengatakan bahwa anaknya diperlakukan seperti hamba sahaya dan seperti kucing. Maka datanglah bapak itu ke rumah Syekh Abdul Qadir dan setelah mengatakan bahwa beliau telah memperlakukan anaknya seperti kucing dia meminta anaknya kembali karena telah diperlakukan seperti anak kucing, maka kembalilah anak tersebut dan ketika bapaknya mengetesnya anak itu menjawab dengan jawaban yang sangat memuaskan, maka bapak itu menyesalinya dan berniat untuk mengembalikan anaknya kepada Syekh Abdul Qadir. Rupanya beliau mengatakan ” bukan aku tidak mau menerima anak itu kembali, tapi Allah sudah menutup futuhnya untuk mendapat ilmu disebabkan seorang AYAH yang tidak beradab kepada GURU”. Oleh karena itu sebagai orang tua, harus bisa menjaga adab anak-anak dan adab orang tua sendiri terhadap gurunya, jangan sampai gara-gara adab orang tua buruk, sedangkan adab anak sudah baik, maka si anak menjadi santri yang ilmunya tidak Barokah karena ketidak Ridhoan guru anak-anak.. Dan semoga karena orang tua dan anak telah menjaga adab kepada guru anaknya membuat kita semua dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan hamba-hambanya karena الاادب محبوب ; seorang yang beradab pasti akan di cintai.
Makadari itu, terdapat beberapa adab terhadap orang tua yang telah dicontohkan oleh Rasulullah sebagai berikut: 1. Tidak memandang dengan tatapan tajam Sebagai seorang yang jauh lebih muda, kita dianjurkan untuk tidak memandang orang yang lebih tua dengan tatapan yang tajam dan tidak menyenangkan.
Setiap anak wajib hukumnya berbakti kepada kedua orang tua. Hal ini sesuai dengan perintah baik yang ada di dalam Al-Qur’an maupun hadits. Dalam berinteraksi dengan orang tua, anak harus memperhatikan rambu-rambu etika yang disebut adab. Menurut Imam al-Ghazali sebagaimana disebutkan dalam risalahnya berjudul Al-Adab fid Din dalam Majmu'ah Rasail al-Imam al-Ghazali Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444, sekurang-kurangnya ada tujuh adab anak kepada orang tua sebagai berikut آداب الولد مع والديه يسمع كلامهما، و يقوم لقيامهما، و يمتثل لأمرهما، ويلبى دعوتهما، ويخفض لهما جناح الذل من الرحمة ولا يبرمهما بالإلحاح، ولا يمن عليهما بالبر لهما، ولا بالقيام بأمرهما، ولاينظر إليهما شزرًا ولا يعصى لهما أمرًا. Artinya “Adab anak kepada orang tua, yakni mendengarkan kata-kata orang tua, berdiri ketika mereka berdiri, mematuhi sesuai perintah-perintah mereka, memenuhi panggilan mereka, merendah kepada mereka dengan penuh sayang dan tidak menyusahkan mereka dengan pemaksaan, tidak mudah merasa capek dalam berbuat baik kepada mereka, dan tidak sungkan melaksanakan perintah-perintah mereka, tidak memandang mereka dengan rasa curiga, dan tidak membangkang perintah mereka.”Baca juga Lima Adab Orang Tua kepada Anak Menurut Imam al-GhazaliDari kutipan di atas dapat diuraikan ketujuh adab anak kepada orang tua sebagai berikutPertama, mendengarkan kata-kata orang tua. Setiap kali orang tua berbicara, anak harus mendengarkan dengan baik terutama ketika orang tua berbicara serius memberikan nasihat. Jika anak bermaksud memotong pembicaraan, sebaiknya memohon ijin terlebih dahulu. Jika memotong saja sebaiknya meminta ijin, maka sangat tidak sopan ketika anak meminta orang tua berhenti berbicara hanya karena tidak menyukai nasihatnya. Kedua, berdiri ketika mereka berdiri. Bila orang tua berdiri, anak sebaiknya juga berdiri. Hal ini tidak hanya merupakan sopan santun, tetapi juga menunjukkan kesiapan anak memberikan bantuan sewaktu-waktu diperlukan, diminta atau tidak. Demikian pula jika orang tua duduk sebaiknya anak juga duduk kecuali sudah tidak tersedia kursi lagi yang bisa diduduki. Ketiga, mematuhi sesuai printah-perintah mereka. Apapun perintah orang tua anak harus patuh kecuali perintahnya bertentangan dengan syariat Allah SWT. Atau perintah itu melebihi batas kemampuannya untuk dilaksanakan. Jika terjadi seperti ini, seorang anak harus mencoba semampunya. Jika terpaksa harus menolak, maka cara menolaknya tetap harus dengan menjunjung kesopanan dengan memohon maaf dan memberikan alternatif lain yang sesuai dengan kemampuanya. Keempat, memenuhi panggilan mereka. Anak harus segera menjawab panggilan orang tua begitu mendengar suara orang tua memanggilnya. Dalam hal anak sedang melaksanakan shalat shalat sunnah, ia boleh membatalkan shalatnya untuk segera memenuhi panggilannya. Jika orang tua memanggil anak untuk pulang dan menemuinya, anak harus segera mengusahakannya begitu ada kesempatan tanpa menunda-nunda. Kelima, merendah kepada mereka dengan penuh sayang dan tidak menyusahkan mereka dengan pemaksaan. Seorang anak sealim dan sepintar apapun tetap harus ta’zim kepada orang tua. Ia harus menyayangi orang tua meskipun dahulu mungkin mereka kurang bisa memenuhi keinginan-keinginannya. Seorang anak harus mengerti keadaan orang tua baik yang menyangkut kekuatan fisik, kesehatan, keuangan, dan sebagainya sehingga tidak menuntut sesuatu yang di luar kemampuannya. Dengan cara seperti ini anak tidak menyusahkan orang tua. Keenam, tidak mudah merasa capek dalam berbuat baik kepada mereka, dan tidak sungkan melaksanakan perintah-perintahnya. Seorang anak harus selalu mengerti bahwa dahulu orang tua mengasuh dan membesarkannya tanpa kenal lelah dan selalu menyayangi. Untuk itu seorang anak harus selalu berusaha menyenangkan hati orang tua dengan melaksanakan apa yang menjadi perintahnya. Ketujuh, tidak memandang mereka dengan rasa curiga dan tidak membangkang perintah mereka. Seorang anak harus selalu berprasangka baik kepada orang tua. Jika memang ada sesuatu yang perlu ditanyakan, anak tentu boleh menanyakannya dengan kalimat pertanyaan yang baik dan tidak menunjukkan rasa curiga. Selain itu anak tidak boleh membangkang perintah-perintahnya sebab mematuhi orang tua hukumnya wajib. Ketujuh adab di atas adalah minimal dan harus diketahui dan dilaksanakan oleh anak. Semakin dewasa usia seorang anak, semakin besar tuntutan kepadanya untuk memperhatikan dan mengamalkan ketujuh adab itu. Intinya seorang anak tidak bebas bersikap apa saja kepada orang tua. Demikiamlah Imam al-Ghazali memberikan petunjuk tentang tujuh adab anak kepada orang tua untuk diamalkan dengan sebaik-baiknya. Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdatul Ulama UNU Surakarta. MohonDoa Dan Dukungannya dengan :Subscribe, Like dan ShareYayasan Majelis As - Syafa'at Gubeng Masjid IV Surabayamenerima bagi semua lapisan kalangan Muslim Bismillahirrahmanirrahim Dikisahkan, suatu saat Sultan Harun Ar-Rasyid mengirim salah satu putranya kepada Imam al-Ashma’i, salah satu imam dalam ilmu nahwu untuk belajar ilmu dan adab. Ketika mengunjungi putranya, Khalifah menyaksikan al-Ashma’i sedang berwudhu dan membasuh kaki beliau sedangkan putranya menuangkan air ke kaki sang guru. Melihat hal itu, Khalifah pun tidak menerima dan mengatakan kepada Imam al-Ashma’i, ”Sesungguhnya aku mengirim putraku pedamu agar engkau mengajarkan adab kepadanya. Kenapa engkau tidak memerintahkannya untuk menuangkan air dengan salah satu tangannya sedangkan tangan lainnya membersihkan kakimu?” Ini menunjukkan betapa terhormatnya guru atau orang yang berilmu. Sampai-sampai sekelas khalifah atau kepala negara masa itu harus mendatanginya untuk mendapatkan ilmu serta menasihati anak-anaknya untuk belajar dan menghormati guru. Sebagai orangtua, Harun Ar-Rasyid mempercayakan pendidikan anaknya kepada guru. Biaya yang dikeluarkan oleh beliau juga tak sedikit untuk memuliakan guru. Terlebih, guru juga diberi wewenang untuk mendidik anaknya sebagaimana anak-anak lain, tanpa harus sungkan karena mendidik anak khalifah. Contoh lain dari betapa adab orang tua terhadap guru sang anak memberikan dampak terhadap keberkahan ilmu anak adalah saat orang tua dari Sultan Muhammad Al-Fatih menyerahkan putranya kepada salah seorang ulama untuk dididik olehnya, Ayah Muhammad Al Fatih menyerahkan seutuhnya pendidikan tersebut kepada sang guru. Bahkan sang Ayah tidak sungkan untuk meminta guru Al Fatih untuk memukul Al Fatih kecil jika melakukan kesalahan atau tidak menurut saat diajarinya. Ini adalah bentuk kepasrahan orang tua terhadap guru dalam mendidik anak, mempercayakan pendidikan anak kepada guru, selagi guru itu takut kepada Allah. Ayah bunda, keberkahan ilmu anak bukan hanya ditentukan oleh penghormatan anak terhadap gurunya dan penghormatan kepada sumber ilmu. Tapi adab orang tua kepada guru sang anak juga sangat menentukan keberkahan ilmu sang anak sendiri. Suatu renungan bagi kita para orang tua, ketika mendapati anak-anak kita mengalami kesulitan dalam pembelajaran. Bisa jadi kesulitan tersebut bukan karena ketidak mampuan anak-anak kita dalam hal belajar. Tapi ada sikap atau adab kita sebagai orang tua terhadap guru anak kita yang menutup cahaya keberkahan ilmu anak kita. Semoga kita sebagai orang tua bisa menjaga adab anak-anak dan adab orang tua sendiri terhadap gurunya, jangan sampai gara-gara adab orang tua buruk, sedangkan adab anak sudah baik, maka si anak menjadi siswa yang ilmunya tidak barokah karena ketidak Ridhoan guru. Dan semoga karena orang tua dan anak telah menjaga adab kepada guru anaknya membuat kita semua dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala. DISCLAIMER Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini. Laporkan Penyalahgunaan AlQur’an dan hadits sering kali berpesan supaya manusia berbakti dan menunjukkan adab yg baik kepada orang tuanya. Al-Qur’an menjelaskan, kedua orang tua bersusah payah sejak anak dalam kandungan dan berjasa dalam merawatnya sampai tumbuh dewasa. Tetapi orang tua juga dituntut buat bersikap yg baik terhadap anaknya. Sayyid

Peran orang tua dalam membesarkan seorang anak begitu besar dan itulah mengapa kita harus menghormati mereka. Orangtua dan guru tak lepas mengemban tanggung jawab mereka dalam membesarkan dan mendidik anak maupun tua kita menjadi guru pertama yang mengajarkan banyak hal tentang dunia sejak kita lahir. Dan guru di sekolah meneruskan kewajiban untuk mendidik di lingkungan sekolah. Berkat jasa-jasa mereka, seorang anak perlu memahami adab dan sopan santun terhadap orang tua dan guru sebagai bentuk terima Adab terhadap Orang TuaDalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata adab’ memiliki arti akhlak, budi pekerti, kesopanan, atau tutur halus. Sedangkan orang tua ialah ayah laki-laki dan ibu perempuan yang menjadikan kita ada saat ini. Maka dapat disimpulkan bahwa adab terhadap orang tua artinya bagaimana cara seorang anak agar memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik kepada orang untuk berakhlak mulia dan bersikap baik terhadap orang tua diterangkan dalam kitab suci Alquran dan hadits. Salah satunya yaitu۞وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا ….. ٣٦“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tuamu ibu - bapak, …. ” QS. an-Nisaa’ 36Ada berbagai macam cara yang merupakan adab terhadap orang tua bagi seorang anak, antara lain sebagai berikutTidak berkata kasar, membentak apalagi berbicara sesuatu yang menyakiti hati orang tuaDilarang mengguakan kata ah’ atau cih’ ketika berbicara dengan orangtuaBerbicara dengan tutur kata yang lemah lembut, halus dan sopanMerendahkan diri di depan orang tua dengan maksud menunjukkan kasih sayang kita sebagai anak kepada merekaSelalu mendoakan untuk kebaikan mereka. Berikut doa yang bisa dipanjatkan untuk kedua orang tua “Wahai Rabb-ku, kasihanilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah menyayangiku dan mendidikku semenjak aku masih kecil”Belajar dengan giat agar dapat membanggakan kedua orang tua sebagai bentuk terima kasih kita karena telah dibesarkan hingga saat anak yang telah menerapkan adab terhadap orangtua dengan baik dan benar pasti mendapatkan berkah selama hidup. Selain itu, seorang anak akan merasakan ridha dari orang tua karena telah memberikan ketenangan kepada mereka dengan menjadi anak yang baik. Dengan adab yang baik juga hubungan antara seorang anak dan orang tua menjadi lebih baik dan erat. afifahrahma

Adabkepada Guru dan Orang Tua |LENI ELPITA SARI, DKK.| EDUGAMA Vol. 6 No. 1 Juli 2020| 77 anak di dunia ini. Tidak ada perjuangan yang ikhlas tanpa pamrih kecuali perjuangan kedua orang tua.6 Orang tua juga merupakan pahlawan bagi anak-anaknya bagaimanapun keadaanya. Oleh karena itu seorang anak harus berbakti dan taat kepada Al-Qur’an dan hadits sering kali berpesan agar manusia berbakti dan menunjukkan adab yang baik kepada orang tuanya. Al-Qur’an menjelaskan, kedua orang tua bersusah payah sejak anak dalam kandungan dan berjasa dalam merawatnya sampai tumbuh dewasa. Tetapi orang tua juga dituntut untuk bersikap yang baik terhadap anaknya. Sayyid Abdullah Ba’alawi Al-Haddad dalam Kitab An-Nahsihud Diniyyah menganjurkan orang-orang tua untuk membantu anak mereka dalam berbakti kepadanya. Orang tua meski memiliki hak yang besar dianjurkan untuk lebih banyak memaafkan dan memberikan kemudahan bagi anak mereka agar anak-anak mereka tetap tergolong sebagai manusia yang berbakti kepada kedua orang tuanya. ويستحب للوالدين أن يعينوا أولادهم على برهم بالمسامحة وترك المضايقة في طلب القيام بالحقوق ومجانبة الاستقصاء في ذلك سيما في هذه الازمنة التي قل فيها البر والبارون وفشا فيها العقوق وكثر العاقون Artinya, "Orang-orang tua dianjurkan untuk membantu anak-anak mereka dalam berbakti kepada mereka dengan pemaafan, tidak membuat anak-anak cemas dengan menuntut kewajiban, dan menjauhi penyelidikan dalam masalah tersebut terlebih di zaman ini di mana sedikit sekali kebaktian dan anak-anak yang berkati kepada orang tua dan kedurhakaan mewabah, dan banyak orang-orang berbuat durhaka kepada orang tuanya," Sayyid Abdullah Ba’alawi Al-Haddad, Nashaihud Diniyyah, [Indonesia, Darul Kutub Al-Arabiyyah tanpa tahun], halaman 62. Manusia memang tidak selalu dapat memenuhi keinginan orang tuanya di samping anak juga memiliki hak individu yang berbeda pandangan dan sikap dengan pandangan serta sikap orang tua. Bahkan banyak manusia mengecewakan dan menyakiti hati orang tuanya. Tetapi orang tua yang bijak dan pemaaf akan mendapat ganjaran besar dari Allah SWT. Dengan kebijaksanaan dan sikap pemaaf, mereka dapat menyelamatkan anaknya dari dosa durhaka. فإذا فعل ذلك وسامح أولاده سلمهم وخلصهم من اثم العقوق مما يترتب عليه من عقوبات الدنيا والآخرة وحصل له من ثواب الله وكريم جزائه ما هو أفضل وأكمل وخير وأبقى من بر الأولاد وقد قال عليه الصلاة والسلام رحم الله والدا أعان ولده على بره Artinya, "Jika orang tua melakukan itu dan memberikan lebih banyak pemaafan kepada anak-anaknya, niscaya ia telah menyelamatkan dan membebaskan mereka dari dosa durhaka yang berdampak pada siksa dunia dan akhirat. Ia berhak mendapat pahala dan kemurahan ganjaran Allah yang lebih utama, sempurna, baik, dan lestari dibandingkan tindakan berbakti anak-anaknya. Rasulullah SAW bersabda, Semoga Allah menurunkan rahmat-Nya kepada orang tua yang membantu anaknya berbuat bakti kepada orang tua,’"Al-Haddad, tanpa tahun 62. Sayyid Abdullah Ba’alawi Al-Haddad berpesan kepada orang tua agar selalu mendoakan yang terbaik baik anaknya karena doa itu akan memberikan manfaat baginya dan bagi anak-anaknya. Sayyid Abdullah Al-Haddad berpesan agar orang tua menahan diri dari mendoakan keburukan bagi anaknya karena hal itu hanya akan menambah durhaka dan mudharat di dunia bagi anak dan bagi dirinya sendiri. Sementara doa orang tua adalah doa mustajabah. فينبغي له أن يدعو له ولا يدعو عليه فقد يصلحه الله ببركة دعائه فيعود بارا فينتفع الوالد ببره وتقر عينه به ويفوز الولد بثواب البر ويسلم من اثم العقوق Artinya, “Orang tua seyogianya mendoakan yang baik, bukan yang buruk bagi anak-anaknya. Dengan begitu, niscaya Allah memberikan kemasahatan bagi anak-anaknya berkat doanya sehingga mereka kembali berbakti dan orang tua mereka menerima manfaat atas kebaktian anaknya dan itu menyenangkan hatinya. Sedangkan anak-anaknya beruntung dengan pahala kebaktian dan selamat dari dosa kedurhakaan.” Al-Haddad, tanpa tahun 62. Orang tua selayaknya mengingat-ingat nasihat Sayyid Abdullah Ba’alawi Al-Haddad agar mereka dan anaknya tetap berada dalam kemaslahatan dan keridhaan Allah SWT di dunia dan di akhirat. Wallahu a’lam. Alhafiz Kurniawan
Setiaporang tua memiliki kesibukan atau pekerjaan, latar belakang pendidikan yang berbeda-beda yang tentunya berdampak pada cara mereka dalam menjalankan perannya sebagai orang tua dan sebagai guru bagi anaknya di rumah. Dalam sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Agustien Lilawati, menemukan bahwa peran orang tua dalam pembelajaran di
Buku ini menjelaskan hakikat, validitas, dan kontribusi Tafsir Tarbawi di Indonesia. Di dalamnya membahas karya-karya Tafsir Tarbawi yang diterbitkan di Indonesia dari tahun 2002 sampai 2018 20 buku. Tema-tema yang dibahas dalam buku ini adalah apa sesungguhnya fungsi al-Qur’an bagi pengembangan ilmu pendidikan Islam dalam Tafsir Tarbawi di Indonesia?; Apakah sebagai sumber rujukan nilai saja atau juga sebagai sumber pengembangan ilmu atau teori?. Lebih lanjut pertanyaan tersebut dirinci dalam tiga pertanyaan sebagai berikut pertama, apa hakikat Tafsir Tarbawi di Indonesia?; kedua, apakah Tafsir Tarbawi ini bisa dikatakan sebagai karya tafsir? Jika iya, maka apakah ia valid dan bisa diterima?; dan ketiga, apa kontribusi Tafsir Tarbawi bagi pengembangan ilmu pendidikan Islam?. Penulis buku ini menyimpulkan, pertama, fungsi al-Qur’an bagi pengembangan Ilmu Pendidikan Islam dalam Tafsir Tarbawi di Indonesia lebih sebagai sumber nilai daripada sebagai sumber ilmu atau teori Pendidikan Islam, walaupun keduanya ada; kedua, Tafsir Tarbawi di Indonesia adalah tafsir al-Qur’an dengan pendekatan pendidikan, baik yang merupakan buku daras maupun kajian tafsir khusus; ketiga, Tafsir Tarbawi adalah corak tafsir al-Qur’an yang sah dan bisa diterima; dan keempat, bagaimanapun, karya-karya Tafsir Tarbawi telah berkontribusi bagi pengembangan Ilmu Pendidikan Islam, baik dalam tataran paradigma dan metodologi maupun hasil. Dari sisi paradigma dan metodologi, buku-buku Tafsir Tarbawi telah menawarkan pendekatan dan metode tafsir bagi pengembangan Tafsir Tarbawi tafsir bercorak pendidikan, sementara dari sisi hasil, buku-buku Tafsir Tarbawi di Indonesia bukan hanya telah turut mengokohkan konsep-konsep dasar dan prinsip-prinsip pendidikan Islam sebagai nilai, tetapi juga telah merumuskan ilmu atau teori Pendidikan Islam berupa komponen-komponen Pendidikan Islam. Tafsir Tarbawi dengan demikian berfungsi sebagai landasan teologis-skriptural sekaligus sebagai alat epistemologis-konseptual.

atauorang tua yang memperlakukan anaknya secara diskriminatif, baik dengan pilih kasih, membeda-bedakan antara yang cerdas, tampan, cantik, berpangkat, padahal seharusnya anak itu di hargai, dipahami. Begitu pula dengan sikap murid yang kurang baik dalam berinteraksi dengan guru, orang tua yakni tidak menjaga adab baik secara sikap ataupun

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu pelajaran yang pasti diberikan kepada peserta didik di Sekolah. Peranan penting telah diduduki oleh guru yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Diantara tugas dan peran guru PAI adalah menyampaikan ilmu yang berdasarkan tuntunan agama Islam, mengajarkan tentang perilaku yang sesuai dengan pedoman agama Islam, yaitu Al—Qur’an dan Hadist, dan memberikan contoh atau teladan yang baik bagi peserta ini sudah banyak perguran tinggi yang meluluskan guru-guru PAI yang berkompetensi, dan siap disebarkan di seluruh penjuru negri. Peranan guru PAI yang telah disebutkan diatas tadi selalu menjadi momok tersendiri. Pasalnya guru PAI selalu dikaitkan dengan moral siswa. Beberakali kerap ditemui peristiwa yang mana dalam peristiwa itu seoalah memojokan dan menjatuhkan harga diri seorang guru PAI. Kasus kenakalan siswa seoalah hanya menjadi PR untuk guru PAI saja, contohnya seperti kasus bullying, tawuran, balap liar, dan krisis moral lainnya. Dengan adanya kasus kenakalan siswa banyak diaantaranya yang menanyakan “siapa guru PAImu?”, pertanyaan tersebuat seoalah-olah menyalahkan guru PAI yang tidak bisa mengajarkan perilaku yang baik, berbudi pekerti yang baik, dan adab sopan santun yang sesuai dengan norma. Padahal jika diperhatikan lebih dalam lagi, pendidikann moral pada anak tidak terlepas dari pendidian yang diberikan oleh kedua orang tuanya. Jadi tidak sepantasnya guru PAI saja yang seolah disudutkan begitu saja, akan tetapi juga harus melihat bagaimana latarbelakang siswa dan pola pendidikan yang diberikan oleh orangtuanya. Salah satu faktor penyebab terjadinya kasus kenakalan siswa\remaja adalah faktor internal, yaitu faktor kepribadian dan keluarga. kepribadian remaja tercermin dalam kepribadian oraang tuanya. Sudah menjadi kewajiban orang tua memberikan teladan yang baik untuk anak-anaknya. Seperti halnya dijelaskan dalam hadist yang berarti “Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Amir bin Abdullah bin Al Zubair dari Amru bin Sulaim Al Zuraqi dari Abu Qatadah Al Ansari, bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam pernah salat dengan menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Dan menurut riwayat Abu Al Ash bin Rabiah bin Abdu Syamsi, ia menyebutkan, jika sujud beliau letakkan anak itu dan bila berdiri beliau gendong lagi.” Bukhori.Dalam hadist tersebut dapat disimpulkan, bahwa sudah seharusnya orang tua mengajak dan mencontohkan perilaku yang baik, karena setiap pasti akan menirumu perilaku kedua orang tuanya. Peranan orang tua dalam pendidikan moral anak tidak hanya sampai disitu saja. Hanya memberikan contoh itu tidak cukup untuk anaknya. Tapi orang harus memberikan kasih sayang dan perhatian pada anak-anaknya. Orang tua juga harus memenuhi kewajiaban dan hak kepada anaknya. Dengan terpenuhinya kasih sayang, kewajiban dan hak orang tuanya, serta teladan yang baik dari orang tuanya akan memberikan rasa cukup pada jiwa sang anak. Sehingga anak akan berperilaku baik dan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang kurang terpuji, seperti kasus kenakalan remaja yang merugikan diri anak tetapi tidak semua orang tua mampu memenuhi kebutuhan psikis dan rohaniah anak. Berdasarkan pengamatann, beberapa orang tua memiliki masalah dan kendala masing-masing. diantara kendala dan masalah tersebut adalah, sepasang suami istri yang bercerai sehingga berdampak pada anaknya, rendahnya perekonomian keluarga yang menyebabkan terhambatnya kebutuhan anak, kesibukan orang tua yang bekerja menyebabkan terbatasnya waktu untuk bermain atau sekedar mengobrol dengan anaknya. Hal demikianlah yang menyebabkan krisis identitas bagi sebagian remaja sehingga menyebabkan kenakalan-kenakalan yang mereka tunjunkkan pada lingkungan identitas dan krisis moral pada remaja atau siswa mennjadi perhatian besar bagi sekolah dan orang tua yang harus segera diselesaikan. Diantara upaya yang dilakukan untuk mengembalikan jatidiri remaja dan meperbaiki moral siswa, yang seharusnya dilakukan oleh orang tua adalah, membangun hubungan yang sehat dengan anak, meluangkan lebih banyak waktu dengan anak, memberikan perhatian yang cukup, memenuhi kebutuhan anak semampunya, dan memperbaiki pola asuh. Kemudian upaya sekolah dalam membantu orang tua untuk mengembalikan jatidiri remaja dan meperbaiki moral siswa adalah mengajarkan norma-norma agama saat berlangsungnya pelajaran, mengenali siswa dan memahami latarbelakang siswa sehingga tidak melabeli siswa “nakal”, menjembatani siswa dan orang tua untuk memperbaiki kedekatan psikis mereka, dengan mengadakan event-event yang bermanfaat seperti kajian\seminar parenting untuk orang tua dan hipnoterapi untuk siswa. Dengan demikian upaya-upaya tersebut dapat dilakukan kerjasama antar orangtua dengan sekolah, untuk mengurangi kenakalan siswa, memperbaiki moral siswa, dan memperbaiki krisis identitas pada siswa. Sehingga dapat membantu mewujudkan pendidikan yang berkualitas, dan sumber daya manusia yang bemanfaat. Lihat Pendidikan Selengkapnya RPPAKIDAH AKHLAK X KD 7. : 1. Adab kepada orang tua dan guru. 2. Simulasi adab kepada orang tua dan guru. KI-1 : menghayatidan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya. lingkungan, gotongroyong , kerjasama, cinta damai. Responsip dan pro aktif dan. 1.7. MENURUT Imam Al-Ghazali sebagaimana disebutkan dalam kitabnya berjudul Al-Adab fid Din Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, halaman 444 setidaknya ada lima 5 adab orang tua terhadap anak-anaknya sebagai berikut“Adab orangtua terhadap anak, yakni membantu mereka berbuat baik kepada orang tua; tidak memaksa mereka berbuat kebaikan melebihi batas kemampuannya; tidak memaksakan kehendak kepada mereka di saat susah; tidak menghalangi mereka berbuat taat kepada Allah SWT; tidak membuat mereka sengsara disebabkan pendidikan yang salah.” BACA JUGA Suami-Istri, Perhatikan Adab-adab Ini di Tempat Tidur Dari kutipan di atas dapat diuraikan kelima adab orang tua kepada anak-anaknya sebagai berikut Pertama, membantu anak-anak bersikap baik kepadanya Sikap anak kepada orang tua sangat dipengaruhi sikap orang tua kepada mereka. Jika orang tua sayang kepada anak-anak, mereka tentu akan membalas dengan kebaikan yang sama. Tidak mungkin anak-anak bersikap baik kepada orang tua, jika mereka diperlakukan semena-mena. Oleh karena itu ketika orang tua bersikap baik kepada anak-anaknya, sesungguhnya orang tua telah mendidik dan membantu anak-anaknya menjadi anak yang baik pula. Kedua, tidak memaksa anak-anak berbuat baik melebihi batas kemampuannya Orang tua perlu memahami psikologi perkembangan agar anak-anak dapat menjalani kehidupannya sesuai dengan fase-fase perkembangannya. Tidak bijak apabila anak-anak yang masih duduk di bangku TK sudah diperintahkan berpuasa sehari penuh selama Ramadhan. Mereka memang perlu dilatih berpuasa tetapi tidak boleh seberat itu. Demikian pula tidak bijak apa bila orang tua memaksakan kehendaknya agar mereka selalu menduduki ranking 1 di kelasnya, misalnya, sementara kemampuannya kurang mendukung. Ketiga, tidak memaksa anak-anak saat susah Sebagaimana orang dewasa, anak-anak juga bisa merasakan susah, misalnya karena kehilangan sesuatu yang menjadi kesayangannya seperti binatang kesayangan atau lainnya. Pada saat seperti ini orang tua sebaiknya dapat memahmi psikologi anak dengan tidak menambahi bebannya. Misalnya, orang tua melakukan perintah-perintah yang banyak dan berat sehingga menambah beban anak. Justru sebaiknya orang dapat menghibur dan membesarkan hati anaknya bahwa Allah akan mengganti apa yang hilang dari anak itu dengan sesuatu yang lebih baik. Keempat, tidak menghalangi anak-anak untuk berbuat taat kepada Allah SWT Tidak sebaiknya orang tua menghalangi anak-anak ketika mereka bermaksud melakukan ketaatan kepada Allah SWT, misalnya, berlatih puasa sunnah Senin-Kamis. Tetapi memang orang tua perlu memberi arahan untuk tidak berpuasa dahulu, misalnya, ketika kondisi anak sedang sakit. Orang tua perlu menjelaskan bahwa beberapa orang diperbolehkan tidak berpuasa, misalnya orang-orang yang sedang sakit, atau seorang ibu yang sedang menyusui anaknya yang masih kecil. Untuk puasa Ramadhan memang harus diganti apabila ditinggalkan, edang puasa sunnah tidak harus diganti. Kelima, tidak membuat anak-anak sengsara disebabkan pendidikan yang salah Adalah kewajiban orang tua mendidik anak dengan sebaik-baiknya sehingga anak memiliki ilmu yang cukup dan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan. Apabila orang tua tidak cukup membekali anak dengan ilmu dan ketrampilan yang diperlukan dan malahan memanjakannya, maka hal ini bisa menyengsarakan anak di kemudian hari. Anak bisa bodoh dan tidak mandiri dalam banyak hal sehingga tidak bisa menolong dirinya sendiri apalagi orang lain. Keadaan seperti ini akan membuat anak sengsara dalam hidupnya. BACA JUGA 8 Adab Ketika Bangun Tidur 2-habis Singkatnya kelima hal di atas, yakni mengkondisikan anak sanggup dan mampu berbuat baik kepada orang tua, menghargai prestasi anak dalam meraih hal yang baik sesuai batas kemampuannya, mengerti perasaan anak ketika mereka sedang susah, mendukung anak untuk berbuat ketaatan kepada Allah SWT, dan membuat anak mampu hidup bahagia dengan pendidikan yang benar, merupakan adab atau etika minimal yang perlu dilakukan setiap orang tua kepada anak-anaknya. Demikianlah Imam Al-Ghazali memberikan resep kepada kita untuk menjadi orang tua yang baik. []

DalamIslam juga diatur bagaimana adab orang tua yang baik terhadap anak. 1. Menasihati dengan cara yang baik ilustrasi ibu menasihati anaknya ( Pfennig) Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, mereka akan banyak berbuat kesalahan. Mereka mungkin tidak tahu atau terdorong nafsunya sehingga membuat khilaf.

403 ERROR Request blocked. We can't connect to the server for this app or website at this time. There might be too much traffic or a configuration error. Try again later, or contact the app or website owner. If you provide content to customers through CloudFront, you can find steps to troubleshoot and help prevent this error by reviewing the CloudFront documentation. Generated by cloudfront CloudFront Request ID AeCDNzDgrWXfevKa0jC5k0cCKX9TJSqJub3AQs-xECxg73hlocP5Qg==
IniHal Mendasar yang Membedakan Orang Tua Murid Dahulu dan Sekarang terhadap Guru di Sekolah. Ini Hal Mendasar yang Membedakan Orang Tua Murid Dahulu dan Sekarang terhadap Guru di Sekolah. Pendidikan. By Majidatun Ahmala On Feb 15,
Dalam Islam, anak wajib berbakti kepada orang tua. Ada sederetan adab terhadap orang tua yang tertulis di Al-Qur’an dan hadis yang harus dipatuhi anak. Berbuat baik kepada orang tua adalah salah satu pintu masuk menuju bagaimana dengan adab orang tua terhadap anak? Walaupun anak tidak akan bisa membalas jasa orang tua yang tak terhitung jumlahnya, bukan berarti orang tua bisa berbuat apa saja terhadap anak. Dalam Islam juga diatur bagaimana adab orang tua yang baik terhadap Menasihati dengan cara yang baikilustrasi ibu menasihati anaknya PfennigAnak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan, mereka akan banyak berbuat kesalahan. Mereka mungkin tidak tahu atau terdorong nafsunya sehingga membuat khilaf. Ini adalah salah satu cara anak-anak belajar tentang benar dan anak berbuat salah, tugas orang tua untuk memberitahukan letak kesalahannya dan memberinya nasihat. Tidak perlu emosi atau marah saat menasihatinya, karena adab menasihati dalam Islam adalah dengan lemah lembut dan kata-kata yang baik. Allah bahkan menyuruh Nabi Musa untuk menasihati Fir’aun dengan lemah lembut, padahal Fir’aun adalah raja yang sangat zalim dan jelas kekafirannya. Hal ini tertulis dalam Al-Qur'an surat Thaha ayat 44 Hendaknya kalian berdua ucapkan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan ia akan ingat atau takut kepada Allah. 2. Bersikap lemah lembut dan tidak berbuat kasarilustrasi ayah memeluk anak perempuannya KrasnikovaTingkah laku anak-anak terkadang bisa sangat menguji kesabaran orang tua. Padahal orang tua juga manusia, yang bisa lelah, capek atau sakit. Saat anak sedang membuat ulah yang membuat hati kesal, ingat bahwa Islam melarang bersikap kasar kepada anak. Tetaplah sabar dan menjauhlah sebentar dari anak-anak untuk menenangkan diri, agar tidak terjadi kekerasan pada sebuah hadis dijelaskan bahwa Allah menyukai sikap lemah lembut dan akan memberikan ganjaran untuk orang yang bisa bersikap demikian. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda Hai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan kepada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras, dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.HR Muslim 3. Bersikap adililustrasi ayah bermain bersama dua anaknya Fairytale Mempunyai anak lebih dari satu, berarti harus siap membagi perhatian sama adilnya terhadap semua anak. Tidak boleh ada anak yang merasa diberikan kasih sayang dalam porsi yang berbeda dengan saudaranya. Rasulullah pun sudah menegaskan tentang pilih kasih ini dalam sebuah hadis. Beliau menegur salah seorang sahabatnya yang pilih kasih terhadap anak-anaknya. Dari Nu’man bin Basyir ra bahwasannya ayahnya datang membawanya menemui Rasulullah Saw, dia berkata, “Sungguh aku telah memberi pemberian berupa seorang hamba sahaya milikku kepada anakku ini.” Kemudian Rasulullah Saw berkata, “Apakah semua anakmu mendapat pemberian seperti anakmu ini?” Ayah An-Nu’man menjawab, tidak. maka Rasulullah Saw pun bertanya, “Apakah engkau senang apabila mereka anak-anakmu semuanya berbakti kepadamu dengan sama?” Lalu ayah An-Nu’man menjawab, “Aku mau wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah Saw bersabda “Kalau begitu, jangan kau lakukan pilih kasih.” HR. Muslim Baca Juga 5 Adab Ini Harus Dilakukan saat Bertengkar dengan Orang yang Lebih Tua 4. Bersabar dalam mendidikilustrasi ibu sedang menasihati anak satu kewajiban orang tua adalah mendidik anak-anaknya, terutama dalam hal agama. Mengajarkan salat, puasa dan berbagai kewajiban lainnya agar mereka terbiasa mengerjakan perintah-perintah Allah kelak ketika dewasa. Tapi proses mendidik ini tidak mudah dan lama, serta membutuhkan kesabaran. Jangan mudah menyerah jika anak belum tertarik untuk mengikuti apa yang diperintahkan, teruslah berdoa kepada Allah dan bersabar dalam ayat di Al-Qur’an yang menyuruh manusia untuk bersabar, salah satunya ada dalam Surat Al-Anfal ayat 46 Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar. 5. Tidak memaksakan kehendakilustrasi ayah dan anak beraktivitas bersama orang tua, terkadang merasa tahu apa yang terbaik untuk anak. Padahal anak juga manusia yang mempunyai keinginan sendiri. Selama keinginannya tidak bertentangan dengan syariat Islam, sebaiknya orang tua mendukungnya, sambil terus diberikan arahan dan masukan. Belajarlah mendengarkan keinginan anak dan jangan memaksakan keinginan hanya karena ambisi pribadi orang menegaskan bahwa orang tua tidak boleh memaksakan kehendak, misalnya dalam hal pernikahan, seperti yang disebutkan dalam hadis berikut Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya. HR. Muslim no. 1421, dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma Jadi bukan hanya anak yang punya aturan adab terhadap orang tua, tapi orang tua pun punya adab yang harus diperhatikan terhadap anak. Bagaimanapun orang tua adalah pemimpin bagi anaknya dan cara orang tua mendidik anak kelak akan dimintakan tanggung jawabnya oleh Allah. Dengan menjalankan adab-adab ini, tentunya kita berharap anak-anak dapat tumbuh menjadi orang yang berakhlak mulia. Baca Juga 5 Adab Mendaki Gunung, Jangan Langgar Pantangan! IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis. DalamIslam, setiap anak harus berbhakti dan menunjukkan adab yang baik kepada orang tuanya. Akan tetapi orang tua juga dituntut untuk bersikap yang baik terhadap anaknya. Dalam Kitab An-Nahsihud Diniyyah yang ditulis Sayyid Abdullah Ba’alawi Al-Haddad, seperti dilansir NU online, dijelaskan bahwa para orang tua hendaknya, membantu anak
Para pembaca yang memiliki akhlaq mulia berikut kami sajikan adab kepada orang tua dan guru, beserta dalilnya. Selamat membaca. Pertanyaan Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz mau tanya, bagaimana adab seorang anak terhadap guru dan orang tua? Ditanyakan oleh Sahabat BIAS melalui Grup WA Jawaban Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh Adab Istimewa Terhadap Guru Belajar ilmu agama tidaklah sama dengan belajar disiplin ilmu yang lain. Setiap hamba yang kewajibannya mengabdi kepada Sang Penciptanya, dituntut untuk belajar apa-apa yang menjadi fardhu ain bagi dirinya, tidak boleh tidak. Dia harus mempelajari ilmu syar’i yang hukumnya wajib, memahaminya, dan mengamalkannya. Dan orang yang secara khusus menghabiskan waktu mempelajari dan menelaah ilmu agama, disebut alim. Kelak dia akan menjadi guru bagi generasi penerus selanjutnya. Dahulu Al-Hasan bin Ali berkata kepada puteranya, “Apabila engkau bermajelis dengan orang-orang yang berilmu maka bersemangatlah untuk mendengar ketimbang berbicara. Belajarlah mendengar yang baik sebagaimana engkau belajar berbicara. Janganlah engkau memutus pembicaraan orang.” lihat Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih, 2/148 dalam riwayat lain disebutkan dari Al-Hasan Al-Bashri. Ajaran Islam Yang Mulia Mengajarkan Etika dan Adab Bagaimana seharusnya seorang murid bersikap terhadap gurunya. Budi pekerti yang luhur ini senantiasa diajarkan oleh para ulama setiap zaman kepada para penuntut ilmu, bahkan telah tetap arahan dan nasihat dari Nabi yang penuh kasih sayang, di mana beliau Shallallahu alaihi wasallam bersabda; لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ “Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama” HR. Ahmad, no. 22755, dari sahabat Ubadah Bin Shamit dan dishahihkan ahli hadits Al Albani dalam Shahih Al Jami. Adab Kepada Orang tua, Semasa Hidupnya dan Sepeninggalnya Ikhwatal Iman Ahabbakumullah, saudara saudariku sekalian yang mencintai Sunnah dan dicintai oleh Allah Azza wa Jalla.. Orang tua adalah mutiara dalam kehidupan kita, banyak sekali ayat Al-Quran yang membahas tentang kewajiban bakti pada orang tua. Dan dengan banyaknya dalil tersebut ada satu hal yang harus digarisbawahi, yakni adab kepada orang tua bukanlah hukum sebab akibat, tetapi perintah langsung dari Allah. Tidak peduli bagaimana keadaan dan masa lalu orang tua kita, baik atau buruk, tanggung jawab atau tidak, peduli atau cuek, bakti kepada mereka tidak akan gugur. Jangan dianggap kita wajib berbakti ketika orang tua, sayang saja, ketika orang tua sabar saja, atau ketika sering membelikan hadiah saja, karena memang berbakti pada orang tua bukanlah hukum sebab akibat. Bahkan Allah telah mengaitkan kewajiban bakti kepada mereka setahap setelah kewajiban utama seorang hamba, yakni mentauhidkan Allah Azza wa Jalla وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا “Sembahlah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah pada kedua orangtua” QS. An-Nisaa 36 قُلۡ تَعَالَوۡاْ أَتۡلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمۡ عَلَيۡكُمۡۖ أَلَّا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗاۖ “Katakanlah “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, dan berbuat baiklah pada kedua orang tua.” QS. Al-An’am 151 وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan berbuat baiklah pada kedua orangtua” QS. Al-Israa 23 Dipenghujung surat Al-Israa ayat 23 di atas Allah juga langsung memberikan contoh kasus perihal adab berbicara pada orang tua إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا “Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah’ dan janganlah kamu membentak mereka serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” QS. Al-Isra 23 Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan أي لا تسمعهما قولا سيئا حتى ولا التأفيف الذي هو أدنى مراتب القول السيئ “Maksudnya jangan memperdengarkan kepada orang tua perkataan yang buruk. Bahkan sekadar Ah’ yang ini merupakan tingkatan terendah dari perkataan yang buruk” Tafsir Ibnu Katsir Wallahu Alam. Referensi – – Dijawab dengan ringkas oleh Ustadz Fadly Gugul حفظه الله Kamis, 13 Muharram 1443 H/ 11 Agustus 2022 M Ustadz Fadly Gugul حفظه الله Beliau adalah Alumni STDI Imam Syafi’i Jember ilmu hadits, Dewan konsultasi Bimbingan Islam Untuk melihat artikel lengkap dari Ustadz Fadly Gugul حفظه الله تعالى klik disini
Y9hILs.
  • aa824d1kfq.pages.dev/176
  • aa824d1kfq.pages.dev/831
  • aa824d1kfq.pages.dev/494
  • aa824d1kfq.pages.dev/36
  • aa824d1kfq.pages.dev/656
  • aa824d1kfq.pages.dev/792
  • aa824d1kfq.pages.dev/810
  • aa824d1kfq.pages.dev/839
  • adab orang tua terhadap guru anaknya